Ayo Berlangganan

Ayo Berlangganan

CERITA DAERAH KRAYAN BAGIAN 3

PESTA SETELAH MEMBUNUH HARIMAU

Setelah berhasil membunuh induk harimau beserta anaknya, Moyang dan Goya meminta kepada masyarakat yang ikut bersamanya pada saat itu untuk membelah perut dan mengeluarkan isinya dan mengambil daging dan kulit di bawa pulang kerumah.

Menurut masyarakat yang berada disekitar daerah tersebut, tampak sebuah keanehan setelah membelah perut harimau dan di dapati 3 buah empedu dan hati yang bergelombang. Sejak nenek moyang mereka belum ada menemui kelainan karena sudah sering dan banyak binatang yang mereka potong dan makan, belum pernah didapati kelainan seperti itu terutama pada hati harimau yang bergelombang. Melihat kelainan dan keganjilan pada hati binatang tersebut, lalu diputuskan untuk diambil dan digantung di serambi depan rumah untuk diperlihatkan kepada tetua-tetua kampung guna meramalkan bagaimana nasib masyarakat di daerah ini ke depannya.

Daging harimau yang dibawa pulang tadi lalu direbus dalam wajan/kuali besar sampai mendidih, tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari daging harimau yang direbus tadi dan berkata "Boro-Boro Muyuh", yang artinya "Larilah kamu dari sini". Mendengar hal tersebut justru masyarakat semakin bersemangat dan berteriak kalau musuh mereka sudah kalah. karena keselamatan yang mereka peroleh yaitu dengan berhasilnya membunuh musuh mereka yaitu sang harimau.

Untuk merayakan kemenangan, masyarakat mengadakan pesta pora selama 1 minggu di kampung dengan memakan daging harimau yang telah masak, dan ratusan tempayan yang berisi arak yang mereka minum sambil menari.


HUJAN TIADA HENTI

Saat pesta berlangsung dan suasana begitu ramai, saat itu pula hujan mulai turun tiada henti selama 1 minggu pula, dari pagi sampai malam. Selama hujan tersebut tidak disangka-sangka melihat keanehan lainnya yaitu kodok-kodok yang berada di sungai pun naik kerumah dengan bergandengan tangan. Melihat hujan yang tiada henti, kemudian Moyang dan Goya memutuskan untuk naik ke atas bumbung/atap rumah sambil memukul gong yang mereka miliki dengan harapan hujan bisa berhenti.


ISTANA/RUMAH JADI BATU

Setelah sekian lamanya Moyang dan Goya memukul gong, namun yang terjadi justru sebaliknya hujan turun semakin deras dan semakin lama hujan yang turun menjadi hujan batu. Semakin banyak hujan batu yang turun di perkampungan mereka yang tiada henti dan muncul sebuah keajaiban yang ternyata istana, rumah dan perkampungan yang berada di sekitar wilayah tersebut berubah menjadi batu. Sebuah Istana/rumah panjang yang berubah jadi batu, mereka menyebutnya dengan nama 3 (istana) bersaudara jadi batu. yaitu Gora Betung, Gora Mirir dan Gora Moyang.

Selain ketiga istana tersebut juga terdapat Gora Sebeh dan Batu Gerit yang juga dahulu merupakan rumah yang menjadi batu. Dan masih banyak lagi peninggalan-peninggalan sejarah berupa rumah yang berubah menjadi batu di wilayah krayan. Namun, batuan tebing memanjang ini hanya ada didaerah hutan adat lokasi/desa Pa'Betung dan Long Api, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur.


Print PDF

Posting Komentar

0 Komentar