29 Agustus 2025

Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka: Strategi Holistik Mengakomodasi Keunikan Siswa

Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia

Latar Belakang Kurikulum Merdeka dan Urgensi Pembelajaran Berdiferensiasi

Kurikulum Merdeka (KM) menandai pergeseran signifikan dalam lanskap pendidikan Indonesia, diperkenalkan pada tahun 2022 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai respons terhadap krisis pembelajaran, termasuk yang diperparah oleh pandemi COVID-19. Paradigma baru ini mengedepankan kebebasan yang lebih besar bagi peserta didik dalam menentukan jalur pembelajaran mereka. Filosofi inti KM adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa, menempatkan kebutuhan, minat, dan potensi individu siswa sebagai fokus utama dalam merancang dan melaksanakan pendidikan. Pergeseran fundamental ini secara inheren menuntut pendekatan pedagogis yang mampu mengakomodasi keberagaman yang melekat pada setiap siswa.

Pembelajaran Berdiferensiasi (Differentiated Instruction) adalah strategi pengajaran yang secara eksplisit berfokus pada penanganan kebutuhan belajar individual siswa. Urgensinya dalam kerangka Kurikulum Merdeka muncul dari pengakuan eksplisit bahwa siswa memiliki kemampuan, minat, dan gaya belajar yang beragam. Transisi menuju Kurikulum Merdeka lebih dari sekadar pembaruan kurikulum; ini mewujudkan transformasi filosofis yang mendalam. Pergeseran ini, dari model yang berpusat pada konten ke model yang berpusat pada siswa , secara langsung memerlukan adopsi pembelajaran berdiferensiasi. Tanpa diferensiasi yang efektif, prinsip inti Kurikulum Merdeka—yaitu mengakomodasi keunikan siswa—berisiko tetap menjadi tujuan aspiratif daripada kenyataan praktis, yang berpotensi mengarah pada implementasi yang dangkal dan gagal mengubah praktik kelas secara fundamental.

Pentingnya Mengakomodasi Keunikan Siswa dalam Proses Pembelajaran

Setiap siswa yang memasuki ruang kelas membawa serangkaian perbedaan yang unik, termasuk gaya belajar yang bervariasi, pengetahuan awal, tingkat pemahaman, dan minat pribadi. Mengakomodasi keunikan yang melekat ini sangat penting untuk memastikan bahwa setiap siswa dapat mencapai potensi maksimalnya. Pendekatan ini melampaui model pendidikan tradisional yang "satu ukuran untuk semua," yang seringkali gagal melayani peserta didik yang beragam secara efektif.

Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya menarik dan bermakna, tetapi juga sangat personal bagi setiap siswa, sehingga menumbuhkan motivasi intrinsik dan menghasilkan peningkatan hasil akademik. Penekanan kuat pada pengakuan dan akomodasi keunikan siswa dalam Kurikulum Merdeka merupakan indikasi tren global yang lebih luas dalam reformasi pendidikan. Tren ini memprioritaskan pembelajaran yang dipersonalisasi dan menandakan keberangkatan dari model pendidikan standar yang usang. Hal ini mencerminkan pemahaman yang berkembang bahwa pembelajaran yang benar-benar efektif tidak dicapai melalui penyampaian yang seragam, tetapi melalui keterlibatan yang disesuaikan yang menghormati perbedaan kognitif dan afektif individu. Keselarasan ini menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memposisikan pendidikan Indonesia untuk memenuhi standar pedagogis kontemporer. Pergeseran paradigma ini menuntut guru untuk mengembangkan pola pikir mereka dari sekadar penyampai konten menjadi fasilitator pembelajaran yang terampil, di mana kemampuan untuk memahami dan merespons profil siswa individu menjadi kompetensi profesional sentral.

Pembelajaran Berdiferensiasi: Fondasi Pedagogis untuk Keunikan Siswa

Definisi dan Konsep Pembelajaran Berdiferensiasi (Carol Ann Tomlinson)

Pembelajaran Berdiferensiasi, sebagaimana diartikulasikan oleh Carol Ann Tomlinson (1999), didefinisikan sebagai pendekatan pedagogis yang dirancang untuk mengakomodasi, melayani, dan secara eksplisit mengakui keberagaman yang melekat di antara siswa dalam pembelajaran mereka, disesuaikan dengan kesiapan individu, minat, dan gaya belajar pilihan mereka. Pada dasarnya, ini berfungsi sebagai kerangka strategis untuk memfasilitasi dan mengatasi berbagai perbedaan yang ada di antara siswa dalam satu lingkungan kelas.

Prinsip-Prinsip Utama Pembelajaran Berdiferensiasi

Prinsip-prinsip inti yang memandu pembelajaran berdiferensiasi meliputi: mengakui dan merespons individualitas; mengupayakan pencapaian pembelajaran yang komprehensif untuk setiap siswa; secara aktif menumbuhkan dan mempertahankan motivasi siswa; mempertimbangkan konteks dan latar belakang unik setiap siswa; dengan cermat mengatasi minat dan kebutuhan siswa yang beragam; dan merangkul "normalisasi"—memandang keragaman siswa sebagai standar daripada pengecualian. Prinsip-prinsip lebih lanjut menekankan penciptaan lingkungan belajar yang nyaman dan aman, implementasi kurikulum berkualitas tinggi yang secara tepat menantang semua siswa (dari yang mahir hingga yang membutuhkan lebih banyak dukungan), penggunaan asesmen yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi, praktik pengajaran responsif berdasarkan data asesmen, serta pentingnya kepemimpinan kelas yang efektif dan rutinitas yang terstruktur.

Prinsip "normalisasi" merupakan konsep dasar yang sangat penting. Ini menyiratkan bahwa keragaman siswa bukanlah anomali yang harus "dikelola" atau "diperbaiki," melainkan kondisi yang diharapkan dan alami di kelas yang harus dirangkul. Pergeseran mendasar dalam perspektif ini secara kausal memengaruhi cara guru mendekati perencanaan kurikulum dan pengajaran, beralih dari model reaktif berupa remediasi untuk beberapa siswa yang kesulitan menjadi desain proaktif dan inklusif yang secara inheren melayani berbagai jenis peserta didik. Perubahan pola pikir ini sangat mendasar bagi keberhasilan dan keberlanjutan implementasi pembelajaran berdiferensiasi.

Tabel : Prinsip-Prinsip Utama Pembelajaran Berdiferensiasi dan Relevansinya

Aspek-Aspek Diferensiasi: Konten, Proses, dan Produk

Pembelajaran Berdiferensiasi biasanya dioperasionalkan melalui tiga aspek utama: konten, proses, dan produk. 

Diferensiasi Konten (Content Differentiation): Aspek ini membahas apa yang diajarkan kepada siswa. Ini melibatkan penyesuaian materi pembelajaran berdasarkan berbagai aspek kesiapan siswa—mulai dari tingkat konkret hingga abstrak, sederhana hingga kompleks, terstruktur hingga terbuka, bergantung hingga mandiri, dan kecepatan belajar yang lambat hingga cepat. Selain itu, diferensiasi konten juga mempertimbangkan minat individu dan profil belajar yang beragam, termasuk faktor lingkungan, pengaruh budaya, serta gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik pilihan siswa. Aspek ini mengharuskan penyediaan berbagai pilihan materi dan penyesuaian tingkat kesulitan konten agar sesuai dengan kebutuhan siswa.

Diferensiasi Proses (Process Differentiation): Aspek ini berfokus pada bagaimana siswa berinteraksi dan memahami materi pembelajaran. Ini melibatkan implementasi berbagai aktivitas, strategi instruksional, dan metode pengelompokan yang fleksibel. Contoh praktis meliputi kegiatan berjenjang (di mana semua siswa bekerja untuk membangun pemahaman yang sama tetapi dengan tingkat dukungan atau kompleksitas yang berbeda), penyediaan pertanyaan pemandu untuk merangsang eksplorasi yang lebih dalam, pembuatan agenda individu, fasilitasi waktu yang fleksibel untuk penyelesaian tugas, pengembangan aktivitas yang beragam untuk mengakomodasi gaya belajar yang berbeda, dan pemanfaatan strategi pengelompokan fleksibel berdasarkan kesiapan, kemampuan, dan minat siswa. Guru memainkan peran penting dalam menentukan jumlah bantuan yang sesuai untuk setiap siswa.

Diferensiasi Produk (Product Differentiation): Aspek ini mengacu pada bagaimana siswa menunjukkan pemahaman dan penguasaan tujuan pembelajaran mereka. Ini memungkinkan berbagai bentuk ekspresi, seperti esai, laporan tertulis, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, atau model. Elemen paling krusial adalah bahwa produk yang dipilih harus secara otentik mencerminkan pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran yang diinginkan. Aspek ini melibatkan pemberian pilihan kepada siswa tentang bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran mereka dan menetapkan harapan yang jelas untuk kualitas produk akhir.

Tabel : Perbandingan Aspek Diferensiasi (Konten, Proses, Produk) dengan Contoh Implementasi

Landasan Teori: Relevansi Vygotsky (Zone of Proximal Development), Gardner (Multiple Intelligences), dan Brain-Based Learning

Pembelajaran berdiferensiasi didukung oleh landasan teoritis yang kuat dari beberapa ahli pendidikan terkemuka, yang secara sinergis mendukung pendekatannya dalam mengakomodasi keunikan siswa.

  • Zone of Proximal Development (ZPD) Vygotsky: ZPD dikonseptualisasikan sebagai kesenjangan krusial antara apa yang dapat dicapai peserta didik secara mandiri dan apa yang dapat mereka capai dengan bantuan yang sesuai dari teman sebaya yang lebih berpengetahuan atau orang dewasa. Pembelajaran berdiferensiasi, dengan secara strategis menyediakan tingkat tantangan dan dukungan yang disesuaikan (sering disebut sebagai scaffolding) dalam ZPD siswa, secara langsung selaras dengan teori sosiokultural pembelajaran Vygotsky. Pendekatan ini secara efektif mendorong akuisisi bertahap keterampilan dan pengetahuan baru, membangun secara bermakna di atas pemahaman siswa yang sudah ada.
  • Multiple Intelligences Gardner: Teori Howard Gardner menyatakan bahwa kecerdasan manusia bukanlah entitas tunggal yang monolitik, melainkan terdiri dari kecerdasan yang berbeda dan relatif independen (misalnya, linguistik, logis-matematis, musikal, kinestetik-tubuh, spasial, interpersonal, intrapersonal, naturalis). Pembelajaran berdiferensiasi secara aktif mengakomodasi kecerdasan yang beragam ini dengan memvariasikan metode dan pendekatan instruksional, memungkinkan siswa untuk terlibat dengan materi dan menunjukkan pemahaman dengan cara yang paling sesuai dengan kekuatan alami dan jalur belajar pilihan mereka.
  • Brain-Based Learning (BBL): BBL adalah pendekatan pendidikan yang berakar pada ilmu saraf, menekankan bahwa lingkungan dan strategi pembelajaran harus dirancang agar selaras dengan cara otak belajar secara alami. Ini mengakui bahwa setiap otak individu itu unik, dan akibatnya, setiap siswa memiliki gaya belajar pilihan mereka sendiri. Teknik BBL, yang telah diadopsi secara internasional, memprioritaskan pelibatan sistem emosional siswa dan menumbuhkan hubungan yang bermakna antara intelektual dan emosi, sehingga meningkatkan perhatian dan efikasi pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi, melalui adaptabilitasnya terhadap gaya belajar individu dan fokusnya pada penciptaan pengalaman yang bermakna dan menarik secara pribadi, secara inheren mendukung prinsip-prinsip Brain-Based Learning.

Integrasi sinergis dari teori-teori pendidikan terkemuka ini (Vygotsky, Gardner, dan Brain-Based Learning) memberikan fondasi ilmiah dan psikologis yang kuat untuk pembelajaran berdiferensiasi. Landasan teoritis ini mengangkat diferensiasi melampaui sekadar kumpulan strategi pedagogis, menjadikannya sebagai pendekatan berbasis bukti yang berakar kuat dalam ilmu kognitif, psikologi perkembangan, dan ilmu saraf. Dukungan teoritis yang komprehensif ini secara signifikan memperkuat argumen untuk kebutuhan dan efektivitasnya dalam benar-benar mengakomodasi keunikan siswa.

Kurikulum Merdeka: Filosofi dan Karakteristik dalam Menghargai Keunikan

Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai Dasar Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka berakar kuat pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang merupakan landasan pedagogi Indonesia. Prinsip-prinsip utama filosofi ini, yang secara langsung tercermin dalam Kurikulum Merdeka, meliputi: "Pendidikan untuk Semua," yang menekankan inklusivitas tanpa memandang latar belakang, gender, atau budaya; "Pendidikan Berbasis Budaya," yang menghargai identitas lokal sambil merangkul perspektif global; "Pendidikan Holistik," yang menyeimbangkan pengembangan akademik, fisik, emosional, dan sosial; "Pendidikan Karakter," yang menumbuhkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, gotong royong, dan disiplin; "Pendidikan Relevan dengan Kehidupan," yang memastikan pengetahuan dan keterampilan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata; dan "Pendidikan sebagai Alat Pembebasan," yang memberdayakan individu dan masyarakat untuk mengatasi berbagai bentuk ketidakadilan.

Filosofi Ki Hajar Dewantara, khususnya prinsip "Pendidikan untuk Semua" dan "Pendidikan Holistik" , secara langsung menuntut implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Jika sistem pendidikan benar-benar bertujuan untuk melayani semua siswa dan mendorong perkembangan holistik mereka, pendekatan yang seragam dan terstandardisasi akan menjadi kontradiktif dan tidak efektif. Dalam konteks ini, pembelajaran berdiferensiasi muncul sebagai manifestasi praktis dan operasional dari visi inklusif dan holistik ini. Hal ini memberikan justifikasi budaya dan nasional yang kuat untuk adopsi pembelajaran berdiferensiasi di Indonesia, memposisikan diferensiasi tidak hanya sebagai tren pedagogis impor, tetapi sebagai perwujudan cita-cita pendidikan nasional yang dipegang teguh.

Karakteristik Utama Kurikulum Merdeka: Fleksibilitas, Fokus Esensial, dan Pengembangan Karakter

Kurikulum Merdeka dicirikan oleh beberapa fitur utama yang membedakannya dan mendukung pendekatannya yang berpusat pada siswa:

Fleksibilitas: Kurikulum Merdeka menawarkan fleksibilitas yang jauh lebih besar dalam menentukan jalur pembelajaran, mencakup aspek-aspek seperti waktu, tempat, dan materi pembelajaran spesifik. Fleksibilitas ini memberdayakan sekolah dan guru untuk menyesuaikan materi dan metode pengajaran agar selaras dengan konteks lokal dan kebutuhan spesifik siswa mereka, sehingga memberi mereka otonomi untuk merancang pengalaman belajar yang sangat relevan dan sesuai dengan kondisi kelas yang sebenarnya.

Fokus Esensial: Kurikulum ini secara strategis mengurangi beban materi yang tidak esensial, memungkinkan siswa untuk memusatkan upaya mereka pada pemahaman mendalam dan penguasaan konsep inti yang penting. Fokus yang ditargetkan ini dirancang untuk menghasilkan hasil pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan.

Pengembangan Kompetensi dan Karakter: Selain aspek kognitif tradisional, Kurikulum Merdeka sangat menekankan pengembangan karakter dan kompetensi siswa secara holistik. Ini termasuk menumbuhkan kualitas seperti kerja sama, integritas, dan empati, yang sering diintegrasikan melalui berbagai kegiatan, terutama Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Pengakuan dan Penekanan Kurikulum Merdeka terhadap Keunikan Individu Siswa

Kurikulum Merdeka secara fundamental memandang siswa sebagai subjek aktif yang memainkan peran sentral dan dinamis dalam proses belajar mereka sendiri, bukan sebagai penerima informasi pasif. Kurikulum ini secara eksplisit mengakui dan menghargai bahwa setiap individu memiliki karakteristik unik, minat yang berbeda, dan potensi yang beragam. Salah satu tujuan utama Kurikulum Merdeka adalah untuk mendukung pengembangan kecerdasan dominan siswa sambil secara bersamaan menyediakan banyak kesempatan untuk mengembangkan semua jenis kecerdasan yang mungkin mereka miliki.

Fleksibilitas yang melekat dan fokus strategis pada materi esensial dalam Kurikulum Merdeka berfungsi sebagai pendukung krusial untuk implementasi pembelajaran berdiferensiasi yang efektif. Dengan mengurangi kendala kurikulum yang terlalu kaku dan mengurangi beban konten, Kurikulum Merdeka secara aktif menciptakan kondisi yang diperlukan bagi guru untuk benar-benar memenuhi keunikan siswa secara individual. Tanpa fleksibilitas yang terintegrasi ini, penerapan praktis diferensiasi akan menjadi jauh lebih menantang, jika tidak tidak praktis. Hal ini menyoroti bahwa inovasi pedagogis yang efektif, seperti pembelajaran berdiferensiasi, tidak hanya bergantung pada keterampilan guru tetapi juga sangat dipengaruhi oleh desain kurikulum secara keseluruhan. Kurikulum Merdeka sengaja distrukturkan untuk menjadi kurikulum yang "ramah diferensiasi."

Integrasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Bagaimana Kurikulum Merdeka Memfasilitasi Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi

Penekanan fundamental Kurikulum Merdeka pada fleksibilitas dan pendekatan yang berpusat pada siswa secara langsung selaras dengan dan secara aktif memfasilitasi integrasi pembelajaran berdiferensiasi yang mulus. Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk menggunakan kreativitas dan otonomi dalam menerapkan kurikulum, bahkan memungkinkan pengembangan kurikulum operasional secara mandiri di tingkat sekolah. Guru diberdayakan dengan kebebasan untuk memilih dan menyesuaikan alat dan sumber daya pengajaran yang secara khusus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sebuah praktik yang telah terbukti secara signifikan meningkatkan minat dan keterlibatan siswa. Kurikulum ini mendukung pemanfaatan metode pembelajaran yang bervariasi, sumber daya yang beragam, dan berbagai kegiatan, semuanya dirancang untuk secara nyaman sesuai dengan gaya dan preferensi belajar siswa yang berbeda.

Peran Guru sebagai Fasilitator dan Penyesuai Pembelajaran

Dalam konteks pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka, peran guru mengalami transformasi signifikan: dari yang semula terutama sebagai penyedia informasi langsung menjadi pembimbing dan fasilitator pembelajaran yang dinamis. Guru diwajibkan untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam dan bernuansa tentang kebutuhan belajar individu siswa, sebuah proses yang sering dimulai dan dipertahankan melalui asesmen diagnostik dan formatif yang berkelanjutan. Mereka memikul tanggung jawab untuk terus menyesuaikan pengajaran, memberikan dukungan yang berkelanjutan dan disesuaikan, serta memastikan bahwa semua siswa mencapai tujuan pembelajaran mereka melalui penerapan metode asesmen yang beragam. Yang terpenting, guru diharapkan dapat memberikan pilihan yang bermakna kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran dan asesmen, sehingga memberdayakan siswa untuk mengambil kepemilikan atas perjalanan belajar mereka dan secara aktif berpartisipasi dalam penilaian diri.

Pergeseran mendasar peran guru dari "penyedia informasi langsung" menjadi "pembimbing dan fasilitator" merupakan faktor penyebab krusial dalam memungkinkan diferensiasi yang benar-benar efektif. Pergeseran ini menuntut guru untuk mengembangkan seperangkat keterampilan tingkat lanjut yang baru, termasuk observasi yang tajam, diagnosis yang tepat atas kebutuhan belajar, dan perencanaan yang sangat adaptif secara real-time, melampaui sekadar menyampaikan kurikulum yang tetap. Ini menyiratkan beban kognitif yang jauh lebih tinggi dan seperangkat keterampilan yang lebih canggih yang diperlukan untuk pendidik kontemporer. Oleh karena itu, pelatihan guru dan pengembangan profesional berkelanjutan harus sangat menekankan pada penanaman keterampilan fasilitasi dan perencanaan adaptif ini, daripada hanya berfokus pada pengetahuan konten atau metodologi pengajaran tradisional.

Manfaat Pembelajaran Berdiferensiasi bagi Siswa dan Guru dalam Konteks Kurikulum Merdeka

Implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka menawarkan berbagai manfaat substansial bagi peserta didik dan pendidik, yang secara kolektif meningkatkan kualitas pengalaman belajar.

Bagi Siswa:

  • Pertumbuhan yang Merata: Pembelajaran berdiferensiasi dirancang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang setara bagi semua siswa, memungkinkan setiap individu mencapai potensi maksimalnya.
  • Pembelajaran yang Menyenangkan: Dengan mengadopsi berbagai strategi yang selaras dengan beragam gaya belajar siswa, pembelajaran berdiferensiasi menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan mudah diakses, membuat pembelajaran terasa lebih mudah dan menarik.
  • Pembelajaran yang Dipersonalisasi: Pendekatan ini memusatkan pembelajaran pada kebutuhan, preferensi, dan minat siswa secara individual, menghasilkan perjalanan pendidikan yang sangat personal.
  • Peningkatan Motivasi & Keterlibatan: Siswa merasa diakui, dihormati, dan didukung, yang secara signifikan menumbuhkan motivasi dan keterlibatan aktif mereka dalam proses pembelajaran.
  • Regulasi Diri: Ini secara aktif mendorong siswa untuk mengambil kepemilikan yang lebih besar atas pembelajaran mereka, mempromosikan keterampilan penting dalam penilaian diri dan refleksi.
  • Peningkatan Hasil Belajar: Dengan mengatasi kesenjangan belajar individu dan memberikan tingkat tantangan yang sesuai, pembelajaran berdiferensiasi secara konsisten mengarah pada peningkatan hasil akademik.

Bagi Guru:

  • Pemahaman Mendalam tentang Siswa: Membantu guru secara akurat mengidentifikasi kebutuhan belajar individu, kekuatan, kelemahan, dan miskonsepsi umum.
  • Strategi Pembelajaran yang Lebih Baik: Memungkinkan guru untuk merefleksikan secara kritis metode pengajaran mereka saat ini dan menyesuaikannya untuk efektivitas yang lebih besar dan responsif terhadap kebutuhan siswa.
  • Keputusan Berbasis Data: Memberikan umpan balik yang berkelanjutan dan dapat ditindaklanjuti yang menginformasikan keputusan instruksional, membuat pengajaran lebih tepat dan berdampak.
  • Manajemen Kelas yang Efektif: Mendukung pengelolaan kelas yang beragam secara efektif dengan memungkinkan dukungan yang disesuaikan dan strategi keterlibatan.
  • Pertumbuhan Profesional: Mendorong pengembangan profesional guru yang berkelanjutan dalam metodologi pengajaran adaptif dan inovasi pedagogis.

Manfaat nyata yang dialami oleh siswa (misalnya, peningkatan motivasi, peningkatan hasil akademik) menciptakan lingkaran umpan balik positif yang kuat yang memperkuat komitmen dan investasi guru dalam pembelajaran berdiferensiasi. Ketika guru mengamati peningkatan konkret dalam keterlibatan dan kinerja siswa, hal itu memvalidasi upaya mereka dan mendorong penerapan strategi berdiferensiasi yang berkelanjutan. Motivasi intrinsik ini merupakan faktor krusial dalam membantu guru mengatasi tantangan inheren dalam implementasi. Menyoroti manfaat timbal balik ini dapat menjadi argumen yang kuat untuk mempromosikan dan mempertahankan pembelajaran berdiferensiasi, menekankan bahwa investasi dalam diferensiasi menghasilkan pengembalian yang signifikan dan berkelanjutan bagi peserta didik dan pendidik, menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih dinamis dan efektif.

Asesmen Formatif: Kunci Mengakomodasi Keunikan Siswa dalam Diferensiasi

Definisi, Tujuan, dan Karakteristik Asesmen Formatif

Asesmen formatif adalah proses evaluasi yang digunakan oleh guru dan siswa sebagai bagian dari instruksi yang memberikan umpan balik berkelanjutan untuk menyesuaikan pengajaran dan pembelajaran guna meningkatkan pencapaian konten inti. Ini memantau pemahaman, kebutuhan, dan kemajuan siswa selama instruksi. Tujuan utamanya bukan hanya untuk mengukur hasil pembelajaran, tetapi untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran itu sendiri.

  • Tujuan spesifik asesmen formatif meliputi:
  • Mengidentifikasi pemahaman siswa, termasuk penguasaan menyeluruh atau parsial, miskonsepsi, dan kebutuhan pembelajaran.
  • Memberikan umpan balik yang konstruktif dan berkelanjutan kepada siswa dan guru.
  • Menyesuaikan instruksi dan strategi pengajaran agar sesuai dengan kebutuhan siswa.
  • Mendorong regulasi diri dan motivasi belajar siswa.

Karakteristik utama asesmen formatif meliputi:

  • Risiko Rendah (Low-stakes): Umumnya tidak berisiko tinggi dan tidak digunakan untuk menentukan nilai rapor atau keputusan kenaikan kelas.
  • Beragam Teknik dan Instrumen: Dapat menggunakan berbagai metode, baik tertulis maupun tidak tertulis, seperti diskusi, drama, produk, tes lisan, refleksi, jurnal, esai, dan tes tertulis.
  • Terintegrasi dengan Pembelajaran: Dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung, menjadikannya satu kesatuan dengan kegiatan belajar.
  • Metode Sederhana: Sering menggunakan metode yang sederhana agar umpan balik dapat diperoleh dengan cepat.
  • Diagnostik Awal: Dilakukan di awal pembelajaran untuk mengidentifikasi kesiapan belajar siswa dan merancang pembelajaran yang sesuai.
  • Fokus pada Peningkatan: Hasil asesmen memberikan informasi tentang kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan, bukan sekadar angka.
  • Progresif dan Berkelanjutan: Bersifat progresif, dapat dilakukan di tengah perjalanan program atau kegiatan pembelajaran , serta memberikan umpan balik berkelanjutan.
  • Buatan Guru: Dirancang oleh guru sebagai asesor atau penilai hasil belajar siswa.
  • Keterlibatan Siswa: Mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam penilaian diri dan penilaian antar teman.

Prinsip-Prinsip Asesmen Formatif yang Efektif

Asesmen formatif yang efektif didasarkan pada beberapa prinsip utama yang memastikan relevansi dan dampaknya terhadap proses pembelajaran:

  • Holistik dan Komprehensif: Asesmen harus mengukur aspek yang seharusnya diukur dan bersifat holistik, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
  • Umpan Balik Langsung dan Membangun: Pendidik senantiasa memberikan umpan balik langsung yang mendorong kemampuan peserta didik untuk terus belajar dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Umpan balik harus bersifat deskriptif dan bukan hanya evaluatif.
  • Pertanyaan Terbuka: Penggunaan pertanyaan terbuka yang menstimulasi pemikiran mendalam.
  • Keterlibatan Orang Tua: Melibatkan orang tua dalam proses belajar melalui komunikasi dua arah.
  • Motivasi dan Tanggung Jawab Siswa: Memotivasi peserta didik untuk menyadari masa depan adalah milik mereka dan perlu mengambil peran serta tanggung jawab.
  • Keterlibatan dalam Pemecahan Masalah: Melibatkan peserta didik dalam mencari solusi permasalahan di keseharian yang sesuai dengan tahapan belajarnya.
  • Pemanfaatan Projek Profil Pelajar Pancasila: Memanfaatkan projek penguatan profil pelajar Pancasila untuk membangun karakter dan kompetensi peserta didik.
  • Asesmen Awal untuk Kesiapan: Menguatkan asesmen di awal pembelajaran untuk merancang pembelajaran sesuai kesiapan peserta didik.
  • Tujuan Pembelajaran yang Jelas: Merencanakan pembelajaran dengan merujuk pada tujuan yang hendak dicapai dan memberikan kejelasan tujuan asesmen kepada peserta didik di awal pembelajaran.
  • Kesempatan Refleksi Diri: Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berefleksi tentang kemampuan mereka dan cara meningkatkannya berdasarkan hasil asesmen.
  • Tingkat Kesulitan yang Tepat: Merancang asesmen untuk mendorong peningkatan kompetensi melalui tingkat kesulitan yang tepat.
  • Validitas dan Reliabilitas: Asesmen harus valid (mengukur apa yang seharusnya diukur) dan reliabel (konsisten hasilnya).
  • Keadilan dan Kepraktisan: Asesmen harus adil (tidak bias) dan praktis (mempertimbangkan batasan waktu dan sumber daya).

Manfaat Asesmen Formatif bagi Pendidik dan Peserta Didik

Asesmen formatif memberikan manfaat yang signifikan bagi kedua belah pihak dalam proses pembelajaran:

Tabel 3: Karakteristik dan Manfaat Asesmen Formatif bagi Guru dan Siswa

Strategi dan Contoh Implementasi Asesmen Formatif dalam Pengajaran Membaca

Asesmen formatif dalam pengajaran membaca sangat penting untuk memantau pemahaman siswa dan menyesuaikan instruksi secara real-time. Berbagai strategi dapat diterapkan, baik secara umum maupun khusus untuk keterampilan membaca:

Strategi Umum Asesmen Formatif:

  • Diskusi Kelas/Kelompok: Mendorong siswa untuk mengemukakan pendapat, berdemokrasi, dan merespons perspektif yang berbeda. Ini mengembangkan kemampuan komunikasi dan berpikir kritis.
  • Tes Lisan/Kuis: Kuis tanya jawab lisan untuk mengonfirmasi pemahaman siswa dan menerapkan umpan balik cepat.
  • Tugas Tertulis: Refleksi (mengevaluasi belajar sendiri), jurnal (merefleksikan perkembangan berkelanjutan), esai (mengasah keterampilan menulis akademis dan berpikir kritis), dan produk digital atau miniatur 3D (mengembangkan kreativitas dan komunikasi).
  • Projek/Kinerja: Tugas yang menuntut siswa mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke berbagai konteks, seperti karya seni atau pentas teater.
  • Penilaian Diri dan Antar Teman: Memberikan kesempatan siswa untuk mengevaluasi diri dan teman sebaya, mendorong refleksi dan tanggung jawab atas pembelajaran.
  • Observasi: Pengamatan perilaku siswa secara berkesinambungan dalam tugas harian atau interaksi kelas.

Strategi Khusus untuk Keterampilan Membaca:

  • Membuat Koneksi: Siswa menunjukkan pemahaman dengan membuat koneksi teks-ke-teks, teks-ke-diri, atau teks-ke-dunia.
  • Meringkas Cerita/Teks: Menggunakan graphic organizers (peta cerita, 5W) atau teknik meringkas 3X (10-15 kata, 30-50 kata, 75-100 kata) untuk mengukur pemahaman.
  • Menggambar/Memvisualisasikan Cerita: Meminta siswa menggambar visualisasi dari bacaan dan menjelaskan gambar tersebut, menunjukkan kemampuan pembaca yang kuat dalam memvisualisasikan.
  • Membuat Prediksi: Menguji pemahaman karakter dengan meminta siswa membuat prediksi di momen penting plot, didukung oleh tindakan karakter sebelumnya.
  • Kerja Kata dan Kosa Kata: Meminta siswa menjelaskan arti kata dan bagaimana mereka mengetahuinya.
  • Inferensi: Meminta siswa membuat inferensi berdasarkan informasi yang ada dan menjelaskan bagaimana inferensi tersebut dibuat.
  • Think-Pair-Share: Siswa berpikir sendiri tentang pertanyaan teks, berpasangan untuk berdiskusi, lalu berbagi pemikiran dengan kelas.
  • Quickwrites: Latihan menulis singkat berjangka waktu untuk menunjukkan pemahaman topik atau sebagai awal proyek menulis yang lebih panjang.
  • TQE (Thoughts, Questions, Epiphanies): Metode siswa untuk mencatat pemikiran mereka sendiri tentang apa yang mereka baca, mendorong pembelajaran mandiri.

Studi Kasus dan Praktik Nyata:

  • Studi Kasus Tana Tidung: Di Tana Tidung, asesmen formatif disertai pelatihan, kurikulum khusus, Lembar Kerja Siswa (LAS), dan pendampingan berhasil meningkatkan keterampilan membaca siswa secara signifikan. Contohnya, kemampuan membaca seorang siswa bernama Fauzan meningkat dari mengenal huruf menjadi lancar membaca kata dalam lima bulan. Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya kebijakan yang tepat untuk mendukung guru.
  • Studi Kasus Madrasah Tsanawiyah Ciamis: Penelitian di Madrasah Tsanawiyah di Ciamis, Jawa Barat, menunjukkan bahwa asesmen formatif tetap dilakukan meskipun dalam kondisi pembelajaran tatap muka terbatas. Strategi yang digunakan meliputi pertanyaan, diskusi, presentasi, membuat dialog sederhana, bermain peran, dan interpretasi gambar. Siswa menunjukkan antusiasme dan motivasi, meskipun beberapa masih kurang percaya diri.

Tabel 4: Contoh Strategi Asesmen Formatif untuk Keterampilan Membaca

Tantangan dan Solusi dalam Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Asesmen Formatif

Implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen formatif dalam Kurikulum Merdeka, meskipun sangat bermanfaat, tidak luput dari berbagai tantangan. Mengidentifikasi dan mengatasi kendala ini sangat penting untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan pendekatan pedagogis ini.

Identifikasi Kendala Umum (Waktu, Sumber Daya, Keterampilan Guru, Ukuran Kelas)

  • Keterbatasan Waktu: Guru seringkali menghadapi tekanan untuk menyelesaikan kurikulum yang luas, menyisakan sedikit waktu untuk asesmen formatif. Menyeimbangkan antara penyampaian konten dan pengumpulan data formatif menjadi sulit. Analisis data siswa dan mengubahnya menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti juga memakan waktu, dan memberikan umpan balik yang tepat waktu serta spesifik kepada semua siswa bisa sangat membebani, terutama di kelas-kelas besar.
  • Sumber Daya Terbatas: Ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, seperti proyektor atau akses ke berbagai bahan ajar dan alat analisis data, seringkali menjadi kendala. Sekolah mungkin tidak memiliki dukungan keuangan yang berkelanjutan untuk menyediakan materi pembelajaran yang beragam untuk setiap topik.
  • Kesenjangan Keterampilan dan Pengetahuan Guru: Tidak semua guru memiliki keterampilan yang diperlukan untuk merencanakan, mengimplementasikan, dan menganalisis asesmen formatif secara efektif. Ada kebutuhan akan literasi asesmen yang mendalam dan pergeseran budaya dari fokus tradisional pada asesmen sumatif. Guru mungkin belum merasa yakin dalam menggunakan berbagai alat penilaian formatif dan kurang berkolaborasi dalam penerapannya.
  • Ukuran Kelas yang Besar: Jumlah siswa yang banyak di setiap kelas membuat sulit untuk memberikan perhatian dan umpan balik individual. Ini juga membatasi peluang untuk melakukan penilaian sebaya dan penilaian diri secara efektif.
  • Kurikulum yang Kaku (sebelum fleksibilitas KM): Meskipun Kurikulum Merdeka bertujuan untuk fleksibilitas, batasan kurikulum di masa lalu masih menjadi tantangan dalam memungkinkan siswa belajar sesuai kebutuhan mereka.
  • Tantangan Psikologis: Beberapa siswa mungkin merasa frustrasi atau marah ketika pembelajaran berdiferensiasi menyingkap perbedaan kemampuan mereka dibandingkan teman sekelasnya. Guru harus menciptakan lingkungan inklusif yang mendukung dan mendorong perkembangan setiap siswa.

Strategi Mengatasi Tantangan dan Membangun Lingkungan Belajar yang Suportif

Untuk mengatasi kendala-kendala ini, diperlukan pendekatan multifaset yang melibatkan pengembangan kapasitas guru, optimalisasi sumber daya, dan fostering lingkungan yang kolaboratif.

  • Pengembangan Profesional Guru: Pelatihan intensif dan berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan keterampilan guru dalam merancang, melaksanakan, dan menganalisis asesmen formatif. Ini harus mencakup fokus pada literasi asesmen, pengajaran adaptif, dan kemampuan untuk menafsirkan data menjadi penyesuaian instruksional yang berarti.
  • Perencanaan Kolaboratif: Mendorong kolaborasi antar guru dan dengan administrator sekolah dalam merancang asesmen dan strategi pembelajaran berdiferensiasi. Ini dapat membantu berbagi beban kerja dan keahlian.
  • Pemanfaatan Teknologi: Menggunakan platform digital dan alat teknologi untuk memfasilitasi asesmen formatif dan pengelolaan diferensiasi. Alat seperti Google Classroom, Kahoot, Quizlet, Quizizz, Socrative, atau fitur audio/video pada platform asesmen dapat membantu dalam melakukan penilaian cepat, mengelola data, dan menghilangkan hambatan membaca atau menulis bagi siswa.
  • Keterlibatan Aktif Siswa: Memberdayakan siswa untuk terlibat dalam penilaian diri, umpan balik sebaya, refleksi, dan penetapan tujuan belajar mereka sendiri. Hal ini tidak hanya mengurangi beban guru tetapi juga meningkatkan regulasi diri dan motivasi siswa.
  • Pengelompokan Fleksibel dan Aktivitas Bervariasi: Menerapkan pengelompokan siswa yang fleksibel dan menyediakan berbagai aktivitas yang disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa.
  • Ekspektasi Jelas dan Rubrik: Memberikan kriteria keberhasilan yang jelas dan menggunakan rubrik untuk memandu siswa dalam memahami ekspektasi dan meningkatkan kualitas pekerjaan mereka.
  • Lingkungan Belajar Positif: Menciptakan lingkungan kelas yang suportif dan inklusif di mana siswa merasa aman untuk mengambil risiko, belajar dari kesalahan, dan berkolaborasi.

Peran Kolaborasi dan Pengembangan Profesional Berkelanjutan

Kolaborasi merupakan elemen krusial dalam mengatasi tantangan implementasi. Kemitraan yang kuat antara guru, kepala sekolah, orang tua, dan komunitas yang lebih luas sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan berbagi praktik terbaik. Program pengembangan profesional berkelanjutan sangat direkomendasikan untuk guru. Program-program ini harus berfokus pada literasi asesmen, pengajaran adaptif, dan penanaman pola pikir inklusif terhadap keragaman siswa. Ini bukan solusi sekali jadi, melainkan proses berkelanjutan yang memerlukan dukungan sistemik dan komitmen jangka panjang.

Tabel 5: Tantangan Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Asesmen Formatif beserta Solusi yang Direkomendasikan

Kesimpulan dan Rekomendasi

Sintesis Temuan Utama

Pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka merupakan strategi pedagogis yang esensial untuk mengakomodasi keunikan siswa. Kurikulum Merdeka, yang berakar pada filosofi Ki Hajar Dewantara, secara fundamental berpusat pada siswa, menekankan fleksibilitas, fokus esensial, dan pengembangan karakter. Filosofi ini secara inheren menuntut pendekatan yang menghargai dan merespons keragaman siswa, menjadikan pembelajaran berdiferensiasi sebagai manifestasi praktis dari visi pendidikan holistik dan inklusif.

Landasan teoritis pembelajaran berdiferensiasi, yang didukung oleh teori Zone of Proximal Development Vygotsky, Multiple Intelligences Gardner, dan Brain-Based Learning, memberikan argumen kuat untuk efektivitasnya. Teori-teori ini secara kolektif menunjukkan bahwa pembelajaran yang disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa akan menghasilkan keterlibatan yang lebih dalam, motivasi yang lebih tinggi, dan pencapaian akademik yang lebih baik.

Asesmen formatif muncul sebagai kunci utama dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Dengan karakteristiknya yang berkelanjutan, berisiko rendah, dan berfokus pada umpan balik, asesmen formatif memungkinkan guru untuk secara akurat mendiagnosis kebutuhan belajar siswa dan menyesuaikan instruksi secara real-time. Manfaatnya sangat luas, baik bagi siswa (peningkatan motivasi, regulasi diri, dan hasil belajar) maupun bagi guru (pemahaman mendalam tentang siswa, strategi pengajaran yang lebih efektif, dan keputusan berbasis data).

Meskipun demikian, implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen formatif menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait keterbatasan waktu, sumber daya, kesenjangan keterampilan guru, dan ukuran kelas yang besar. Mengatasi tantangan ini memerlukan upaya kolaboratif dan pengembangan profesional berkelanjutan.

Implikasi untuk Praktik Pendidikan dan Kebijakan

Implikasi dari analisis ini sangat mendalam bagi praktik pendidikan dan perumusan kebijakan. Bagi praktik pendidikan, guru harus bertransformasi dari penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran yang adaptif, yang mampu merespons kebutuhan individual siswa secara dinamis. Ini memerlukan peningkatan kapasitas guru dalam observasi, diagnosis, dan perencanaan instruksional yang fleksibel. Bagi kebijakan, keberhasilan Kurikulum Merdeka sangat bergantung pada dukungan sistemik yang memungkinkan diferensiasi. Ini mencakup alokasi sumber daya yang memadai, pengembangan kurikulum operasional yang lebih adaptif di tingkat sekolah, dan investasi berkelanjutan dalam pengembangan profesional guru yang komprehensif.

Rekomendasi untuk Peningkatan Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Asesmen Formatif di Kurikulum Merdeka

Berdasarkan temuan dan implikasi yang telah diuraikan, berikut adalah rekomendasi strategis untuk meningkatkan implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen formatif dalam Kurikulum Merdeka:

  • Penguatan Kapasitas Guru yang Komprehensif: Mengembangkan dan melaksanakan program pengembangan profesional yang intensif dan berkelanjutan. Program ini harus fokus pada metodologi pembelajaran berdiferensiasi, teknik asesmen formatif yang beragam, dan analisis data untuk penyesuaian instruksional. Penting juga untuk menanamkan pola pikir "normalisasi" terhadap keragaman siswa, sehingga guru memandang perbedaan sebagai aset, bukan hambatan.
  • Penyediaan Sumber Daya yang Memadai dan Aksesibel: Memastikan ketersediaan dan aksesibilitas sumber daya pembelajaran yang beragam, termasuk bahan ajar cetak dan digital, serta infrastruktur teknologi yang mendukung implementasi asesmen formatif dan diferensiasi. Ini termasuk alat untuk manajemen dan analisis data asesmen yang efisien.
  • Pengembangan Kurikulum Operasional yang Lebih Adaptif: Memberdayakan satuan pendidikan untuk lebih lanjut menyesuaikan kurikulum operasional mereka agar benar-benar mencerminkan konteks lokal dan kebutuhan spesifik siswa, melampaui sekadar kepatuhan terhadap pedoman pusat. Ini akan memberikan ruang bagi guru untuk berinovasi dan beradaptasi.
  • Mendorong Kolaborasi Ekosistem Pendidikan: Membangun dan memperkuat kemitraan yang erat antara guru, pemimpin sekolah, orang tua, dan komunitas yang lebih luas. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang suportif, berbagi praktik terbaik, dan mengatasi tantangan secara kolektif.
  • Penelitian dan Evaluasi Berkelanjutan: Melakukan penelitian dan evaluasi yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengidentifikasi strategi yang paling efektif, mengukur dampak implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen formatif, serta menyempurnakan pendekatan berdasarkan bukti empiris. Ini harus mencakup pengumpulan data kualitatif tentang pengalaman guru dan persepsi siswa untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif.

REFERENSI

  1. Memahami Filosofi Kurikulum Merdeka - Kak Candra, https://kakcandra.com/memahami-filosofi-kurikulum-merdeka
  2. STUDI KASUS PEMBELAJARAN DIFERENSIASI DALAM KURIKULUM MERDEKA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI DI SMA NEGERI 1 TARAKAN, https://repository.ubt.ac.id/repository/UBT08-01-2025-131921.pdf 
  3. dampak pelaksanaan kurikulum merdeka belajar terhadap pembelajaran pendidikan agama islam - Ejournal Universitas Dharmas Indonesia (UNDHARI), https://ejournal.undhari.ac.id/index.php/de_journal/article/download/1345/683/8573 
  4. Filosofi Pendidikan dalam Kurikulum Merdeka, https://disdik.hsu.go.id/2024/08/05/filosofi-pendidikan-dalam-kurikulum-merdeka/ 
  5. Pembelajaran Berdiferensiasi: Pengertian, Manfaat, dan Tujuannya - Acer Indonesia, https://www.acerid.com/pendidikan/pengertian-pembelajaran-berdiferensiasi-dan-manfaatnya 
  6. PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI SEKOLAH DASAR - jurnal - Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, https://jurnal.unipasby.ac.id/jurnal_inventa/article/download/8739/5335/29002 
  7. Model Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka, https://jonedu.org/index.php/joe/article/download/5470/4378/ 
  8. Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka Belajar: Strategi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pendidikan Agama Kristen, https://jurnal.sttarastamarngabang.ac.id/index.php/sinarkasih/article/download/328/311/1205 
  9. Begini Karakteristik Kurikulum Merdeka yang Wajib Dipahami - ESQ Business School, https://esqbs.ac.id/begini-karakteristik-kurikulum-merdeka-yang-wajib-dipahami/ 
  10. Berbagai Tantangan Pembelajaran Berdiferensiasi - Guruinovatif.id, https://guruinovatif.id/artikel/berbagai-tantangan-pembelajaran-berdiferensiasi 
  11. Pembelajaran Berdiferensiasi: Antara Manfaat dan Tantangannya, https://bgpsumsel.kemdikbud.go.id/pembelajaran-berdiferensiasi-antara-manfaat-dan-tantangannya/ 
  12. 5 Karakteristik Siswa dalam Kurikulum Merdeka - Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa, https://www.ybkb.or.id/5-karakteristik-siswa-dalam-kurikulum-merdeka/ 
  13. Evaluasi Metode Penilaian Perkembangan Siswa dan Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka Pada Sekolah Dasar - Penerbit, https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/metta/article/download/2990/1412 
  14. implementasi strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam ..., https://jurnal.markandeyabali.ac.id/index.php/deiksis/article/download/54/50/ 
  15. Aspek dan Prinsip Pembelajaran Berdiferensiasi yang Harus Guru Ketahui - Guruinovatif.id, https://guruinovatif.id/artikel/aspek-dan-prinsip-pembelajaran-berdiferensiasi-yang-harus-guru-ketahui 
  16. The Global Aspects of Brain-Based Learning - ERIC, https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ868336.pdf 
  17. edumaged.wordpress.com, https://edumaged.wordpress.com/2023/04/19/what-is-vygotskys-theory-of-differentiation-and-why-you-should-consider-it/#:~:text=The%20ZPD%20is%20the%20gap,providing%20support%20within%20their%20ZPD.
Share:

18 Agustus 2025

Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka: Optimalisasi Potensi Belajar Siswa

Konsep Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Definisi dan Filosofi Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi, atau Differentiated Instruction, merupakan pendekatan pengajaran yang secara fundamental menyesuaikan instruksi untuk memenuhi kebutuhan belajar individu siswa. Pendekatan ini melibatkan dalam satu kelas yang sama. Carol Ann Tomlinson, seorang ahli terkemuka di penyesuaian metode pengajaran, konten pelajaran, dan strategi penilaian guna mengakomodasi beragam kebutuhan, kemampuan, dan gaya belajar siswa bidang ini, menjelaskan bahwa diferensiasi berarti menyesuaikan instruksi untuk memenuhi kebutuhan individu. Beliau menekankan bahwa guru dapat mendiferensiasi konten, proses, produk, atau lingkungan belajar, dengan menggunakan asesmen berkelanjutan dan pengelompokan fleksibel sebagai pendekatan yang sukses dalam pengajaran.

Filosofi di balik pembelajaran berdiferensiasi adalah bahwa pengajaran harus dirancang berdasarkan keberagaman kesiapan (readiness), profil belajar siswa (learning profile), dan ketertarikan (interest) mereka.

Tujuannya adalah untuk mendukung perkembangan setiap peserta didik secara optimal, dengan memperhatikan kesiapan belajar, minat, dan bakat mereka, serta merangsang motivasi dan minat belajar mereka secara berkelanjutan. Pendekatan ini melampaui sekadar mengakomodasi perbedaan; ini adalah tentang mengoptimalkan potensi belajar setiap siswa. Pergeseran paradigm  dari pendekatan "satu ukuran untuk semua" menjadi "pertumbuhan yang disesuaikan" menyiratkan bahwa tujuan bukan hanya untuk mengajar, tetapi untuk memastikan setiap siswa belajar secara efektif sesuai dengan kecepatan dan gaya unik mereka. Dengan menyesuaikan instruksi secara tepat dengan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa, pembelajaran berdiferensiasi secara inheren memaksimalkan keterlibatan dan pemahaman mereka. Ini adalah strategi proaktif untuk mencapai hasil belajar yang lebih tinggi secara keseluruhan dengan mencegah siswa tertinggal atau tidak tertantang, sehingga mencapai kesetaraan dalam hasil melalui jalur yang berbeda.

Karakteristik Utama Kurikulum Merdeka dan Keterkaitannya dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

Kurikulum Merdeka (KM) mewakili paradigma baru dalam pengembangan kurikulum pendidikan di Indonesia, yang memberikan kebebasan lebih besar ini menekankan partisipasi aktif, kreativitas, dan inisiatif siswa, memandang mereka sebagai subjek sentral dalam proses pembelajaran, bukan lagi sebagai penerima informasi pasif.

Filosofi utama KM berakar pada pembelajaran yang berpusat pada siswa, kebebasan dalam belajar, pengembangan karakter dan kompetensi (seperti berpikir kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global), serta materi yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata. KM juga dirancang untuk mengatasi ketertinggalan literasi dan numerasi di Indonesia. Kurikulum ini memiliki prinsip fleksibilitas yang lebih besar dalam penentuan jalannya pembelajaran, baik dari segi waktu, tempat, maupun materi yang dipelajari, memungkinkan peserta didik memilih dan menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan mereka. Selain itu, KM memberikan otonomi kepada satuan pendidikan (sekolah) untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan karakteristik, kebutuhan, dan potensi lokal mereka sendiri.

Integrasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka juga melibatkan penggunaan beragam sumber daya dan teknologi, seperti platform pembelajaran daring yang menyediakan konten yang dapat disesuaikan. KM juga mendorong Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang merupakan pengalaman belajar interdisipliner yang mendorong siswa untuk menelaah dan mempertimbangkan solusi terhadap permasalahan di sekitar mereka.

Kurikulum Merdeka menyediakan lingkungan kebijakan yang memungkinkan pembelajaran berdiferensiasi berkembang, alih-alih hanya sekadar kompatibel dengannya. Fleksibilitas yang melekat, filosofi yang berpusat pada siswa, dan penekanan pada keunikan individu dalam KM secara langsung selaras dengan dan membutuhkan praktik-praktik berdiferensiasi. Hal ini menjadikan pembelajaran berdiferensiasi bukan hanya pilihan, tetapi strategi implementasi inti untuk keberhasilan KM. Prinsip-prinsip KM tentang "kebebasan yang lebih besar kepada peserta didik dalam menentukan jalannya pembelajaran," "menekankan pada partisipasi aktif, kreativitas, dan inisiatif," dan mengakui "keunikan, minat, dan potensi yang berbeda-beda" adalah kondisi yang tepat yang ingin ditangani dan dimanfaatkan oleh pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah mekanisme pedagogis di mana tujuan filosofis KM dapat diwujudkan. Tanpa pembelajaran berdiferensiasi, KM berisiko menjadi kurikulum standar lainnya, gagal memenuhi janji intinya untuk pengembangan siswa yang personal dan holistik.

Prinsip dan Aspek Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi

Prinsip-prinsip Dasar Pembelajaran Berdiferensiasi

Prinsip-prinsip dasar pembelajaran berdiferensiasi berpusat pada pemahaman bahwa setiap siswa itu berbeda dan memiliki cara belajar yang unik. Oleh karena itu, guru perlu mengenal baik siswa-siswanya, memahami minat, kebutuhan, dan tingkat kemampuan mereka secara mendalam. Terdapat lima prinsip dasar yang memandu guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi: lingkungan belajar yang mendukung, kurikulum yang berkualitas, asesmen berkelanjutan, pengajaran yang responsif, serta kepemimpinan dan rutinitas di dalam kelas.

Penting untuk dipahami bahwa, pada prinsipnya, tujuan pembelajaran di kelas harus sama meskipun bahan ajar, penilaian, dan metode penyampaiannya dapat berbeda berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa. Kesamaan tujuan pembelajaran ini, meskipun dengan pendekatan yang berdiferensiasi, menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi bukan tentang menurunkan standar atau menciptakan kurikulum yang sepenuhnya terpisah. Sebaliknya, ini adalah tentang menyediakan jalur yang adil menuju standar tinggi yang sama. Hal ini menyiratkan penerapan metode yang bervariasi secara strategis, bukan secara acak. Prinsip ini sangat penting untuk mencegah pembelajaran berdiferensiasi disalahartikan sebagai sekadar "mempermudah" bagi sebagian siswa. Ini menggarisbawahi bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah strategi canggih untuk memaksimalkan pencapaian bagi semua siswa dalam kerangka pembelajaran yang sama, menjaga ketelitian akademis dan memastikan semua siswa bekerja menuju seperangkat kompetensi yang sama.

Diferensiasi Konten: Menyesuaikan "Apa" yang Dipelajari

Diferensiasi konten mengacu pada penyesuaian isi atau materi pembelajaran itu sendiri. Penyesuaian ini dapat dibedakan berdasarkan tingkat penguasaan atau pengetahuan siswa, kesiapan belajar, minat, dan profil belajar mereka. Contoh implementasi diferensiasi konten meliputi penggunaan bahan bacaan dengan tingkat keterbacaan yang bervariasi, menyediakan materi teks dalam bentuk audio, menggunakan daftar ejaan atau kosakata yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan siswa, atau menyajikan ide melalui visual dan audio. Guru juga dapat menyesuaikan kompleksitas materi atau menyediakan sumber daya tambahan untuk siswa yang membutuhkan dukungan lebih, atau materi yang lebih maju untuk siswa yang siap bergerak lebih cepat.

Kesiapan belajar siswa bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ) mereka, melainkan lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki siswa saat ini sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan. Minat merupakan salah satu motivator penting bagi siswa untuk dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Sementara itu, profil belajar siswa berkaitan dengan berbagai factor seperti gaya belajar (visual, auditori, kinestetik), pengaruh budaya, lingkungan, dan preferensi kecerdasan.

Diferensiasi konten yang efektif memerlukan pola pikir diagnostik dari guru, bergerak melampaui asesmen satu kali ke pemahaman berkelanjutan tentang kesiapan, minat, dan profil belajar siswa. Diagnosis yang berkelanjutan ini, alih-alih pengelompokan yang statis, memungkinkan penyesuaian dinamis terhadap penyampaian konten, memastikan bahwa materi tetap relevan dan menantang secara tepat. Ini menekankan bahwa diferensiasi konten adalah proses yang berkelanjutan dan dinamis. Ini menuntut guru untuk menjadi diagnostik yang terampil dan perencana yang adaptif, terus-menerus mengevaluasi ulang dan menyesuaikan "apa" dari pembelajaran berdasarkan data siswa secara real-time.

Diferensiasi Proses: Menyesuaikan "Bagaimana" Siswa Belajar

Diferensiasi proses berfokus pada bagaimana seorang guru dapat memberikan instruksi yang tepat kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Ini melibatkan penyesuaian pendekatan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar individual siswa. Strategi yang dapat diterapkan mencakup kegiatan berjenjang (tiered activities), di mana semua siswa bekerja pada pemahaman dan keterampilan yang sama tetapi dengan tingkat dukungan, tantangan, atau kompleksitas yang berbeda. Guru dapat menyediakan pertanyaan pemandu, agenda individu (daftar tugas yang disesuaikan), manipulatif, atau memvariasikan waktu penyelesaian tugas.

Pengelompokan fleksibel (flexible grouping) berdasarkan kesiapan, kemampuan, atau minat siswa sangat penting. Ini bisa berupa kelompok kecil, kerja individu, atau pasangan, dan kelompok-kelompok ini dapat dirotasi secara teratur untuk memenuhi kebutuhan yang berkembang. Penggunaan berbagai metode pembelajaran seperti pembelajaran kooperatif, studi berbasis proyek, dan interaksi guru-siswa satu-satu juga ditekankan. Teknologi, seperti platform daring dan aplikasi pendidikan, dapat memfasilitasi pembelajaran yang inovatif dan interaktif, melampaui batasan ruang kelas atau waktu pembelajaran.

Penekanan pada pengelompokan fleksibel dan metode yang bervariasi menunjukkan bahwa diferensiasi proses bukan hanya tentang kegiatan apa yang ditawarkan, tetapi tentang orkestrasi dinamis di dalam kelas. Ini membutuhkan keterampilan manajemen kelas yang canggih dan kemampuan untuk beralih secara lancar antara kerja seluruh kelas, kelompok kecil, dan individu, memaksimalkan waktu belajar yang produktif untuk semua. Menerapkan berbagai proses ini secara bersamaan dalam satu kelas menuntut lebih dari sekadar mengetahui strategi; ini membutuhkan "keterampilan manajemen kelas" yang kuat dan kemampuan untuk "mengelola atau mengatur kelasnya dengan baik melalui prosedur dan rutinitas di kelas yang dijalankan peserta didik setiap hari". Tanpa manajemen yang dinamis ini, kelas dapat menjadi kacau, menghambat pembelajaran daripada meningkatkannya. Oleh karena itu, pelatihan guru untuk pembelajaran berdiferensiasi harus meluas ke strategi manajemen kelas tingkat lanjut, menekankan peran guru sebagai konduktor orkestra pembelajaran multifaset.

Diferensiasi Produk: Menyesuaikan "Bagaimana" Siswa Menunjukkan Pemahaman

Diferensiasi produk mengacu pada hasil kerja atau kinerja yang harus ditunjukkan siswa untuk mengukur penguasaan materi. Produk ini harus secara akurat mencerminkan pemahaman siswa terkait tujuan pembelajaran yang diinginkan. Diferensiasi produk dapat dilakukan dengan memberikan pilihan kepada siswa tentang bagaimana mereka mengekspresikan pembelajaran yang diperlukan, seperti membuat pertunjukan boneka, menulis surat, mengembangkan mural, presentasi, model 3D, video, atau proyek.

Penting bagi guru untuk menetapkan ekspektasi yang jelas untuk produk, termasuk kualitas yang diinginkan, konten yang harus ada, cara pengerjaan, dan sifat produk akhir. Penggunaan rubrik yang sesuai dengan tingkat keterampilan siswa juga sangat dianjurkan untuk memberikan panduan yang jelas dan mengukur pencapaian secara objektif.

Diferensiasi produk memberdayakan agensi siswa dan motivasi intrinsic dengan memvalidasi beragam bakat dan gaya belajar. Dengan memberikan pilihan dalam cara pemahaman ditunjukkan, pendekatan ini melampaui hafalan atau satu hasil "benar" tunggal, mendorong keterlibatan yang lebih dalam dan tampilan penguasaan yang lebih otentik. Pilihan ini bukan hanya tentang kenyamanan; ini secara langsung memanfaatkan "minat dan bakat" siswa. Ketika siswa dapat memilih media yang mereka minati atau kuasai (misalnya, drama untuk pembelajar kinestetik, laporan tertulis untuk pembelajar linguistik), keterlibatan mereka meningkat, menghasilkan kualitas pekerjaan yang lebih tinggi dan demonstrasi pemahaman yang lebih tulus. Ini sejalan dengan fokus Kurikulum Merdeka pada pengembangan holistik dan pembangunan karakter. Pendekatan ini juga membantu mengurangi "ketakutan akan kegagalan" siswa yang terkait dengan format asesmen tunggal dan berisiko tinggi, mempromosikan pengalaman belajar yang lebih positif dan memberdayakan.

Peran Lingkungan Belajar yang Mendukung

Lingkungan belajar yang mendukung adalah komponen krusial dalam pembelajaran berdiferensiasi. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik sekolah dan kelas yang nyaman dan aman bagi peserta didik. Lingkungan yang tenang dan kondusif secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar. Ini berarti menciptakan suasana fisik dan emosional yang mendukung pembelajaran, mendorong siswa untuk mengambil risiko, bertanya, dan mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi atau gagal.

Guru perlu memastikan ada tempat di ruangan untuk bekerja dengan tenang tanpa gangguan, serta tempat yang mengundang kolaborasi siswa. Fleksibilitas dalam pengaturan tempat duduk, seperti pilihan kursi yang beragam, juga dapat membantu mengakomodasi preferensi belajar yang berbeda.

Lingkungan belajar yang mendukung bukan sekadar latar belakang pasif, melainkan pendorong aktif pembelajaran berdiferensiasi. Ini memupuk keamanan psikologis, yang sangat penting bagi siswa untuk terlibat dalam berbagai proses pembelajaran dan mengambil risiko yang melekat dalam jalur pembelajaran yang dipersonalisasi. Tanpa fondasi ini, bahkan konten dan produk berdiferensiasi yang dirancang dengan baik mungkin gagal menghasilkan hasil yang optimal. Konsep "lingkungan belajar positif dan suportif" yang mendorong siswa untuk "mengambil risiko dan belajar dari kesalahan mereka" sangat penting. Jika siswa merasa dihakimi atau tidak aman, mereka akan cenderung kurang berpartisipasi aktif dalam kegiatan berdiferensiasi yang mungkin mengungkap kesenjangan belajar mereka atau mengharuskan mereka mencoba pendekatan baru yang tidak dikenal. Kenyamanan psikologis ini secara langsung memengaruhi kesediaan mereka untuk terlibat dalam berbagai proses dan menghasilkan produk yang bervariasi. Hal ini menggarisbawahi bahwa pembelajaran berdiferensiasi bukan hanya tentang strategi instruksional, tetapi juga tentang menciptakan budaya kelas yang holistik yang merangkul keragaman dan memupuk pola pikir pertumbuhan, sehingga mengurangi resistensi siswa dan ketakutan.

Manfaat Pembelajaran Berdiferensiasi bagi Ekosistem Pendidikan 

Dampak Positif pada Peserta Didik

Pembelajaran berdiferensiasi membawa dampak positif yang signifikan bagi peserta didik. Pendekatan ini mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang merata bagi semua siswa, membantu setiap siswa mencapai potensi maksimal mereka secara individual. Metode ini secara efektif menjangkau dan mempengaruhi setiap siswa di semua tingkatan kemampuan. Dengan mengadopsi serangkaian strategi pembelajaran yang selaras dengan tipe dan gaya belajar siswa, pembelajaran menjadi menyenangkan dan lebih mudah diterima. Pembelajaran menjadi lebih personal dan berpusat pada siswa, disesuaikan dengan tingkat pengetahuan, preferensi belajar, dan minat mereka.

Manfaat-manfaat ini secara kolektif meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan siswa karena mereka merasa diakui dan didukung dalam perjalanan pembelajaran mereka. Pada akhirnya, ini dapat meningkatkan hasil belajar secara keseluruhan. Selain itu, pembelajaran berdiferensiasi mendorong siswa untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkreasi. Siswa menjadi penjelajah aktif dalam pembelajarannya, mengambil peran sentral dalam proses konstruksi pengetahuan.

Efek kumulatif pembelajaran berdiferensiasi pada siswa melampaui pencapaian akademik untuk memupuk keterampilan abad ke-21 yang penting dan kecintaan belajar seumur hidup. Dengan memelihara motivasi intrinsik dan regulasi diri, pembelajaran berdiferensiasi menumbuhkan pembelajar yang mandiri dan adaptif, yang merupakan aspirasi inti dari "Profil Pelajar Pancasila" dalam Kurikulum Merdeka. Ketika pembelajaran dipersonalisasi dan menyenangkan , secara alami akan meningkatkan motivasi intrinsic, yang mengarah pada keterlibatan yang lebih besar dan, akibatnya, hasil akademik yang lebih baik. Lebih lanjut, dengan mendorong eksplorasi aktif dan pemecahan masalah , pembelajaran berdiferensiasi secara langsung mendukung pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi, yang merupakan fundamental bagi "Profil Pelajar Pancasila". Pembelajaran berdiferensiasi bukan hanya teknik pedagogis; ini adalah pendekatan strategis yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional, bertujuan untuk menghasilkan individu yang berkarakter kuat, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Keuntungan bagi Pendidik

Pembelajaran berdiferensiasi secara signifikan mengubah peran guru dari sekadar penyedia informasi menjadi fasilitator yang membantu siswa mencapai potensi maksimal mereka. Pergeseran peran ini membawa banyak keuntungan bagi pendidik. Guru dapat lebih memahami apakah setiap siswa telah belajar dengan kemampuan terbaik mereka atau tidak melalui penilaian berkelanjutan. Informasi yang lebih baik tentang kebutuhan siswa ini memudahkan guru dalam memilih model pembelajaran yang paling sesuai. Pada akhirnya, ini meningkatkan efektivitas pengajaran dengan memungkinkan guru menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa yang

terus berkembang. Guru juga dapat lebih memahami gaya belajar dan kebutuhan siswa mereka, serta menyediakan dukungan yang diperlukan secara lebih tepat sasaran. Bagi guru, pembelajaran berdiferensiasi mengubah peran mereka dari penyampai konten menjadi ahli strategi pedagogis dan diagnostik. Pergeseran ini, meskipun menuntut, pada akhirnya meningkatkan efektivitas pengajaran dan kepuasan profesional dengan memungkinkan mereka melihat pertumbuhan siswa yang nyata dan mengatasi hambatan belajar individu secara proaktif. Transformasi ini menyiratkan peran yang lebih aktif dan analitis bagi guru. Dengan terus-menerus melakukan asesmen dan adaptasi, guru bergerak melampaui pendekatan "satu ukuran untuk semua" ke pendekatan yang lebih personal dan responsif. Keterlibatan proaktif ini memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi dan mengatasi kesenjangan belajar secara lebih efisien, yang mengarah pada hasil siswa yang lebih sukses, yang pada gilirannya dapat meningkatkan efikasi guru dan kepuasan kerja. Manfaat bagi guru melampaui efisiensi belaka; ini memupuk keterlibatan profesional yang lebih dalam dan dampak yang lebih bermakna pada pembelajaran siswa.

Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi

Keterbatasan Sumber Daya

Salah satu tantangan paling signifikan adalah keterbatasan sarana dan prasarana. Misalnya, jumlah proyektor yang tidak memadai dapat menjadi hambatan berat, terutama karena pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan multi-metode, multi-media, dan multi-sumber untuk mengakomodasi beragam gaya belajar siswa. Selain itu, waktu yang terbatas bagi guru untuk menyiapkan beragam materi dan metode pembelajaran juga menjadi kendala signifikan. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi melibatkan banyak proses, mulai dari pra-penilaian hingga penilaian berkelanjutan, dan dari perencanaan konten hingga proses pengajaran, yang dapat membuat guru kewalahan. Lebih lanjut, biaya tinggi untuk menyediakan berbagai sumber daya dan bahan ajar yang mendukung kebutuhan setiap siswa juga menjadi hambatan yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh banyak sekolah secara berkelanjutan.

Isu keterbatasan sumber daya (waktu, infrastruktur, pendanaan) yang meluas ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan hambatan sistemik yang dapat merusak ketelitian dan keberlanjutan pembelajaran berdiferensiasi, memaksa guru untuk berkompromi pada prinsip-prinsip intinya. Keterbatasan ini secara langsung menghambat kemampuan guru untuk mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi secara efektif. Misalnya, jika seorang guru kekurangan waktu yang cukup, mereka tidak dapat merencanakan konten atau proses yang bervariasi secara memadai. Jika sumber daya multimedia langka, diferensiasi "multi-media" menjadi tidak mungkin. Ini berarti bahwa masalahnya bukan hanya tentang kemauan atau keterampilan guru, tetapi tentang sistem dukungan fundamental. Hal ini menunjukkan perlunya intervensi tingkat kebijakan dan peningkatan investasi untuk menciptakan lingkungan di mana pembelajaran berdiferensiasi dapat benar-benar berkembang, daripada hanya mengandalkan inisiatif individu guru.

Kesiapan dan Kompetensi Guru

Tantangan lain yang krusial adalah kesiapan dan kompetensi guru.

Mengidentifikasi dan memahami kebutuhan belajar siswa yang berbeda di setiap kelas bisa jadi sulit bagi guru, mengingat keragaman gaya belajar, tingkat pemahaman, dan minat siswa. Guru perlu menyiapkan multi-metode, multi-media, dan multi-sumber, yang membutuhkan waktu lebih banyak dan keterampilan yang beragam. Selain itu, tidak semua guru memiliki keterampilan yang menunjang pelaksanaan asesmen formatif, dan pengembangan instrumen, implementasi, serta analisis data asesmen formatif membutuhkan waktu dan keahlian khusus. Membimbing guru untuk mengubah praktik mereka yang sudah mapan, seperti memasukkan pembelajaran yang diprakarsai siswa atau mengadopsi pendekatan baru, merupakan tantangan yang signifikan.

Kesenjangan keterampilan dan resistensi terhadap perubahan di kalangan guru menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran berdiferensiasi yang efektif membutuhkan pergeseran transformatif dalam identitas dan praktik profesional guru, bukan hanya seperangkat teknik baru. Ini memerlukan pengembangan profesional yang berkelanjutan dan mendalam yang membahas baik keterampilan pedagogis maupun pola pikir, memupuk budaya pembelajaran dan adaptasi berkelanjutan di kalangan pendidik. Frasa "membimbing guru untuk mengubah praktik mereka" menyiratkan bahwa ini bukan hanya tentang kurangnya pengetahuan, tetapi tantangan yang lebih dalam dari kebiasaan yang mengakar dan identitas profesional. Pembelajaran berdiferensiasi meminta guru untuk secara fundamental memikirkan kembali pendekatan mereka terhadap pengajaran, yang bisa jadi menakutkan dan membutuhkan dukungan berkelanjutan, bukan hanya pelatihan awal. Transformasi ini memerlukan pergeseran dari "pedagogi kemiskinan" (pembelajaran hafalan) ke "instruksi yang efektif" (konteks yang bermakna, berdiferensiasi). Implementasi pembelajaran berdiferensiasi yang berkelanjutan membutuhkan komitmen jangka panjang terhadap pengembangan profesional guru yang mencakup pelatihan, komunitas belajar kolaboratif, dan budaya sekolah yang mendukung eksperimen dan peningkatan berkelanjutan.

Dinamika Manajemen Kelas dan Kurikulum

Dinamika manajemen kelas dan struktur kurikulum juga menghadirkan hambatan yang kompleks. Jumlah siswa yang banyak di kelas membuat sulit bagi guru untuk fokus pada setiap siswa secara individual dan melayani siswa baik secara individual maupun kelompok. Memimpin kelas dengan beragam kebutuhan belajar memerlukan keterampilan manajemen kelas yang efektif, di mana guru

harus menemukan keseimbangan antara memberikan perhatian individu dan menjaga ketertiban umum di kelas. Kurikulum yang terbatas atau padat dapat mengikat guru dalam batasan materi dan metode pengajaran tertentu, padahal pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan fleksibilitas kurikulum untuk memungkinkan siswa belajar sesuai kebutuhan mereka. Selain itu, beberapa siswa mungkin merasa frustrasi atau marah ketika pembelajaran berdiferensiasi mengungkapkan perbedaan kemampuan mereka dibandingkan teman sekelas, yang memerlukan penciptaan lingkungan inklusif yang mendukung.

Interaksi antara ukuran kelas yang besar, struktur kurikulum yang kaku, dan potensi resistensi psikologis siswa menciptakan tantangan adaptif yang kompleks untuk manajemen kelas dalam pembelajaran berdiferensiasi. Ini menyoroti perlunya solusi sistemik yang melampaui upaya guru individu, seperti ukuran kelas yang lebih kecil, fleksibilitas kurikulum, dan strategi untuk memupuk pola pikir pertumbuhan di kalangan siswa mengenai jalur belajar mereka yang beragam. Faktor-faktor ini saling bergantung. Ukuran kelas yang besar menyulitkan pemberian perhatian individual, bahkan jika seorang guru memiliki keterampilan. Kurikulum yang kaku membatasi kemampuan guru untuk menyesuaikan konten dan proses. Frustrasi siswa dapat muncul jika diferensiasi tidak dikelola secara sensitif, berpotensi merusak lingkungan inklusif. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi yang efektif membutuhkan penanganan berbagai faktor yang saling terkait secara bersamaan. Oleh karena itu, implementasi pembelajaran berdiferensiasi yang berhasil tidak hanya membutuhkan inovasi pedagogis tetapi juga perubahan struktural di tingkat sekolah dan kebijakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar mendukung dan adaptif.

Asesmen Formatif sebagai Pilar Pembelajaran Berdiferensiasi

Pengertian dan Prinsip Asesmen Formatif dalam Kurikulum Merdeka

Asesmen formatif adalah penilaian yang bertujuan untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini dilakukan di awal pembelajaran untuk mengetahui kesiapan siswa, dan juga sepanjang proses pembelajaran untuk memantau kemajuan dan memberikan umpan balik. Prinsip-prinsip asesmen formatif meliputi: terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung, tidak berisiko tinggi (low stakes) dan tidak seharusnya digunakan untuk nilai rapor atau kelulusan, menggunakan berbagai teknik dan instrumen, memberikan umpan balik cepat, dan memberikan informasi kesiapan belajar siswa. Asesmen formatif diharapkan dapat mengukur aspek yang seharusnya diukur dan bersifat holistik, memberikan gambaran komprehensif tentang pemahaman siswa.

Sifat asesmen formatif yang tidak berisiko tinggi, berkelanjutan, dan terintegrasi menjadikannya mesin diagnostik untuk pembelajaran berdiferensiasi. Ini menyediakan data yang real-time dan dapat ditindaklanjuti yang secara langsung menginformasikan penyesuaian instruksional, bergerak melampaui sekadar pengukuran untuk secara aktif membentuk proses pembelajaran. Aspek "tidak berisiko tinggi" sangat penting karena mengurangi kecemasan siswa dan mendorong asesmen diri yang jujur, memberikan data yang lebih akurat bagi guru. Sifatnya yang berkelanjutan memungkinkan penyesuaian segera, mencegah kesenjangan belajar melebar. Ini menjadikan asesmen formatif sebagai lingkaran umpan balik dinamis yang secara langsung mendorong proses iteratif diferensiasi. Asesmen formatif bukan hanya alat evaluasi, tetapi praktik pedagogis inti yang memungkinkan pengajaran responsif, selaras sempurna dengan sifat adaptif yang diperlukan untuk keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi.

Tujuan dan Fungsi Asesmen Formatif untuk Mendukung Diferensiasi

Tujuan utama asesmen formatif adalah untuk meningkatkan pembelajaran siswa dan menyesuaikan instruksi. Fungsi-fungsi spesifiknya sangat mendukung pembelajaran berdiferensiasi: mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa, mendiagnosis kebutuhan pembelajaran, memberikan umpan balik yang konstruktif, memantau kemajuan proses belajar mengajar, mengevaluasi kesesuaian materi yang diajarkan, menjadi pedoman guru dalam menentukan strategi pembelajaran yang sesuai, dan meningkatkan motivasi belajar siswa.

Bagi pendidik, asesmen formatif berguna untuk merefleksikan strategi pembelajaran yang digunakannya, serta untuk meningkatkan efektivitasnya dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Asesmen ini juga memberikan informasi tentang kebutuhan belajar individu peserta didik yang diajarnya. Sementara itu, bagi siswa, asesmen formatif berfungsi untuk berefleksi, memantau kemajuan belajarnya, mengidentifikasi tantangan yang dialaminya, serta langkah-langkah yang perlu ia lakukan untuk terus meningkatkan pencapaiannya. Ini membantu mereka mengidentifikasi kekuatan dan aspek yang perlu dikembangkan, serta mengambil kepemilikan atas pembelajaran mereka.

Asesmen formatif bertindak sebagai lingkaran umpan balik dinamis yang memberdayakan guru dan siswa. Bagi guru, ini mengubah asesmen dari evaluasi statis menjadi alat yang tangkas untuk penyempurnaan instruksional, memungkinkan pengajaran yang benar-benar responsif. Bagi siswa, ini memupuk metakognisi dan regulasi diri, mengalihkan fokus mereka dari nilai ke peningkatan berkelanjutan dan motivasi intrinsik, sehingga memperdalam keterlibatan mereka dengan pembelajaran berdiferensiasi. Ini berarti bahwa asesmen formatif tidak hanya mengukur hasil, tetapi secara aktif membentuk dan meningkatkan proses pembelajaran. Dengan memungkinkan guru menyesuaikan pengajaran secara real-time dan siswa untuk memahami serta mengambil kendali atas pembelajaran mereka, asesmen formatif secara langsung mendukung tujuan inti pembelajaran berdiferensiasi dan Kurikulum Merdeka.

Strategi dan Contoh Penerapan Asesmen Formatif

Asesmen formatif dapat diterapkan melalui berbagai teknik dan instrumen, baik tertulis maupun tidak tertulis. Teknik umum meliputi observasi, penilaian kinerja (praktik, produk, proyek, portofolio), tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Strategi spesifik yang dapat digunakan meliputi:    

  • Diskusi Kelas: Mengembangkan kemampuan komunikasi dan mengemukakan pendapat, melatih demokrasi dan respons sopan.      

  • Drama: Mengembangkan kemampuan seni peran dan komunikasi, menumbuhkan empati dan berpikir kritis.

  • Pembuatan Produk: Seperti miniatur 3D, produk digital, poster, maket, video, yang mengembangkan kreativitas dan kemampuan presentasi.

  • Tes Lisan: Kuis tanya jawab untuk mengonfirmasi pemahaman siswa dan memberikan umpan balik cepat.

  • Refleksi: Melatih siswa mengevaluasi kegiatan belajar mereka sendiri, mengidentifikasi kekuatan dan area perbaikan.

  • Jurnal: Alat bagi siswa untuk merefleksikan perkembangan mereka secara berkesinambungan dan melatih kemampuan mengorganisasi pemikiran.

  • Esai: Mengasah keterampilan menulis akademis, berpikir kritis, dan daya analisis.

  • Tes Tertulis: Kuis pilihan ganda atau pertanyaan uraian untuk mengukur pemahaman.

Khusus untuk keterampilan membaca, asesmen formatif dapat mencakup strategi seperti:

  • Membuat Koneksi: Siswa menunjukkan pemahaman dengan membuat koneksi teks-ke-teks, teks-ke-diri, atau teks-ke-dunia.

  • Think-Pair-Share: Siswa berpikir secara individu, berpasangan untuk berdiskusi, lalu berbagi ide dengan seluruh kelas.

  • Meringkas Cerita: Menggunakan graphic organizer atau meminta siswa menceritakan kembali apa yang mereka baca.

  • Menggambar Cerita: Visualisasi pemahaman teks dengan menggambar dan menulis penjelasan.

  • Membuat Prediksi: Menguji pemahaman siswa tentang karakter atau plot dengan meminta mereka memprediksi kejadian selanjutnya.

  • Quickwrites: Latihan menulis singkat berjangka waktu untuk menilai pemahaman dan keterampilan berpikir kritis.   

  • TQE (Thoughts, Questions, Epiphanies): Siswa mencatat pemikiran, pertanyaan, dan pencerahan mereka saat membaca.

  • Wawancara: Guru melakukan percakapan informal dengan siswa untuk memahami pandangan mereka sebagai pembaca, atau wawancara karakter/acara bincang-bincang.

  • Tugas Terarah: Seperti ringkasan bab, garis waktu peristiwa, peta konsep, doodles (visualisasi), atau respons membaca.

  • Kuis/Polling: Kuis berisiko rendah atau polling untuk mengukur pemahaman cepat.

  • Asesmen Diri: Menggunakan jurnal membaca atau rubrik untuk refleksi dan evaluasi diri.

  • Exit Tickets: Pertanyaan singkat di akhir pelajaran untuk mengukur pemahaman dan mengidentifikasi area yang membutuhkan klarifikasi lebih lanjut.  

Studi kasus menunjukkan keberhasilan penerapan asesmen formatif dalam meningkatkan keterampilan membaca. Misalnya, di Tana Tidung, seorang guru bernama Puji berhasil meningkatkan kemampuan membaca siswanya dari hanya mengenal huruf menjadi lancar membaca kata dalam beberapa bulan, melalui penggunaan asesmen formatif yang disertai pelatihan, kurikulum khusus, LAS, dan pendampingan.

Meskipun terdapat beragam strategi asesmen formatif yang kaya untuk pemahaman membaca, implementasi efektifnya seringkali terhambat oleh kendala sistemik dan praktis, terutama di kelas besar dan beragam dengan sumber daya terbatas. Ini menyoroti kebutuhan kritis akan pengembangan profesional yang komprehensif dan spesifik konteks serta dukungan institusional untuk menerjemahkan prinsip-prinsip asesmen formatif teoretis menjadi praktik kelas yang konsisten dan berdampak. Tantangan dalam implementasi asesmen formatif meliputi kurangnya persiapan siswa dalam menghadapi soal, keterlambatan pengerjaan, kurangnya variasi instrumen penilaian, keterbatasan waktu guru, ukuran kelas yang besar, kurikulum yang padat, dan kurangnya infrastruktur teknologi. Solusi untuk mengatasi kendala ini meliputi pelatihan guru yang mendalam, pemanfaatan teknologi pendidikan, program pengembangan profesional berbasis sekolah, kolaborasi antar guru, penetapan batasan untuk perawatan diri, dan membangun keterlibatan siswa melalui pilihan dan relevansi. 

Pembelajaran berdiferensiasi, yang didukung kuat oleh filosofi dan karakteristik Kurikulum Merdeka, merupakan pendekatan fundamental untuk mengoptimalkan potensi belajar setiap siswa. Pendekatan ini secara proaktif menyesuaikan konten, proses, dan produk pembelajaran berdasarkan kesiapan, minat, dan profil belajar individu siswa, memastikan bahwa setiap peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sama melalui jalur yang disesuaikan. Kurikulum Merdeka, dengan penekanannya pada pembelajaran yang berpusat pada siswa, fleksibilitas, dan pengembangan karakter holistik, menyediakan kerangka kebijakan yang esensial di mana praktik berdiferensiasi tidak hanya dimungkinkan tetapi juga diperlukan untuk mewujudkan visi pendidikannya.

Manfaat pembelajaran berdiferensiasi meluas ke seluruh ekosistem pendidikan. Bagi peserta didik, ini memupuk pertumbuhan yang merata, menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan personal, meningkatkan motivasi dan keterlibatan, serta mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis dan kreativitas. Bagi pendidik, peran mereka bertransformasi menjadi strategis dan diagnostik, memungkinkan mereka untuk lebih memahami kebutuhan siswa, menyesuaikan pengajaran secara efektif, dan merasakan kepuasan profesional yang lebih besar dari melihat pertumbuhan siswa yang nyata. Namun, implementasi pembelajaran berdiferensiasi tidak tanpa tantangan. Keterbatasan sumber daya seperti waktu, fasilitas, dan pendanaan merupakan hambatan sistemik yang dapat mengganggu keberlanjutan praktik berdiferensiasi. Selain itu, kesiapan dan kompetensi guru, termasuk kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan siswa yang beragam dan menerapkan asesmen formatif secara efektif, memerlukan pergeseran transformatif dalam identitas dan praktik profesional. Dinamika manajemen kelas, seperti ukuran kelas yang besar dan kurikulum yang kaku, menambah kompleksitas, menuntut solusi sistemik dan strategi manajemen kelas yang canggih.

Asesmen formatif muncul sebagai pilar penting dalam pembelajaran berdiferensiasi. Sifatnya yang berkelanjutan, tidak berisiko tinggi, dan terintegrasi menjadikannya mesin diagnostik yang vital, menyediakan data real-time yang menginformasikan penyesuaian instruksional. Asesmen formatif berfungsi sebagai lingkaran umpan balik dinamis yang memberdayakan guru untuk menyempurnakan pengajaran dan siswa untuk mengembangkan metakognisi serta regulasi diri, mengalihkan fokus dari nilai ke peningkatan berkelanjutan.

Untuk mencapai implementasi pembelajaran berdiferensiasi yang optimal, diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan komitmen kebijakan yang kuat, investasi berkelanjutan dalam sumber daya, pengembangan profesional guru yang komprehensif dan berkelanjutan (termasuk pelatihan keterampilan pedagogis dan manajemen kelas), serta budaya sekolah yang mendukung eksperimen dan kolaborasi. Hanya dengan mengatasi tantangan-tantangan ini secara terpadu, ekosistem pendidikan dapat secara efektif memanfaatkan potensi penuh pembelajaran berdiferensiasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang inklusif, relevan, dan memberdayakan bagi setiap siswa.

Daftar Pustaka

  1. www.readingrockets.org, https://www.readingrockets.org/topics/differentiated-instruction/articles/what-differentiated-instruction#:~:text=By%3A,instruction%20to%20meet%20individual%20needs. 
  2. en.wikipedia.org, https://en.wikipedia.org/wiki/Differentiated_instruction 
  3. What Is Differentiated Instruction? - Panorama Education, https://www.panoramaed.com/blog/what-is-differentiated-instruction 
  4. 20 Differentiated Instruction Strategies and Examples [+ Downloadable List] - Prodigy, https://www.prodigygame.com/main-en/blog/differentiated-instruction-strategies-examples-download 
  5. What Is Differentiated Instruction? - Reading Rockets, https://www.readingrockets.org/topics/differentiated-instruction/articles/what-differentiated-instruction 
  6. An Introduction > Module 4 > Reading: Key Elements of Differentiated Instruction - ASCD PD Online, https://pdo.ascd.org/LMSCourses/PD11OC115M/media/DI-Intro_M4_Reading_Key_Elements.pdf 
  7. STUDI KASUS PEMBELAJARAN DIFERENSIASI DALAM KURIKULUM MERDEKA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI DI SMA NEGERI 1 TARAKAN, https://repository.ubt.ac.id/repository/UBT08-01-2025-131921.pdf 
  8. 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pembelajaran ..., http://repository.upi.edu/129814/10/S_PAUD_2000691_Chapter2.pdf 
  9. dampak pelaksanaan kurikulum merdeka belajar terhadap pembelajaran pendidikan agama islam - Ejournal Universitas Dharmas Indonesia (UNDHARI), https://ejournal.undhari.ac.id/index.php/de_journal/article/download/1345/683/8573 
  10. Memahami Filosofi Kurikulum Merdeka - Kak Candra, https://kakcandra.com/memahami-filosofi-kurikulum-merdeka/ 
  11. Filosofi Pendidikan dalam Kurikulum Merdeka, https://disdik.hsu.go.id/2024/08/05/filosofi-pendidikan-dalam-kurikulum-merdeka/ 
  12. Begini Karakteristik Kurikulum Merdeka yang Wajib Dipahami - ESQ Business School, https://esqbs.ac.id/begini-karakteristik-kurikulum-merdeka-yang-wajib-dipahami/ 
  13. Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka Belajar: Strategi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pendidikan Agama Kristen, https://jurnal.sttarastamarngabang.ac.id/index.php/sinarkasih/article/download/328/311/1205 
  14. Evaluasi Metode Penilaian Perkembangan Siswa dan Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka Pada Sekolah Dasar - Penerbit, https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/metta/article/download/2990/1412 
  15. Aspek dan Prinsip Pembelajaran Berdiferensiasi yang Harus Guru Ketahui - Guruinovatif.id, https://guruinovatif.id/artikel/aspek-dan-prinsip-pembelajaran-berdiferensiasi-yang-harus-guru-ketahui 
  16. Pembelajaran Berdiferensiasi: Antara Manfaat dan Tantangannya, https://bgpsumsel.kemdikbud.go.id/pembelajaran-berdiferensiasi-antara-manfaat-dan-tantangannya/ 
  17. Page 4: Differentiate Instructional Elements - IRIS Center, https://iris.peabody.vanderbilt.edu/module/di/cresource/q2/p04/ 
  18. Examples of Differentiated Instruction - Graduate Programs for Educators, https://www.graduateprogram.org/blog/examples-of-differentiated-instruction/ 
  19. Differentiation of Content, Process, and Product with Examples, https://enjoy-teaching.com/differentiation/ 
  20. Differentiation: Content, Process, Product, and Learning Environment - HMH, https://www.hmhco.com/blog/differentiation-content-process-product-learning-environment 
  21. What to differentiate - NSW Department of Education, https://education.nsw.gov.au/teaching-and-learning/professional-learning/teacher-quality-and-accreditation/strong-start-great-teachers/refining-practice/differentiating-learning/what-to-differentiate 
  22. implementasi strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam ..., https://jurnal.markandeyabali.ac.id/index.php/deiksis/article/download/54/50/ 
  23. PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI SEKOLAH DASAR - jurnal - Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, https://jurnal.unipasby.ac.id/jurnal_inventa/article/download/8739/5335/29002 
  24. Differentiated Instruction Strategies and Examples for Teacher and Student Success - HMH, https://www.hmhco.com/blog/differentiated-instruction-strategies-examples 
  25. Overcoming Challenges in Differentiated Instruction: Creative Solutions for Teachers, https://lessonseed.com/blog/8/overcoming-challenges-differentiated-instruction-creative-so 
  26. Results in Brief: Case Studies of Schools Implementing Early ..., https://www.ed.gov/sites/ed/files/rschstat/eval/implementing-early-strategies/brief.pdf 
  27. The Three Principles of Differentiation, https://www.montgomeryschoolsmd.org/siteassets/district/curriculum/esol/cpd/module3/docs/principlestext.pdf 
  28. How to differentiate learning in your schools? | Carol Ann Tomlinson - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=9P0cJUEPThY 
  29. The Educator's Guide: 10 Easy-to-Implement Differentiation Strategies, https://www.voyagersopris.com/vsl/blog/the-educators-guide-10-easy-to-implement-differentiation-strategies 
  30. Berbagai Tantangan Pembelajaran Berdiferensiasi - Guruinovatif.id, https://guruinovatif.id/artikel/berbagai-tantangan-pembelajaran-berdiferensiasi 
  31. Top Examples of Formative Assessments in Reading for 2024 - Crafting Comprehension, https://craftingcomprehension.com/formative-assessments-for-reading/ 
  32. 14 Formative Assessment Examples (Challenges & Solutions) | EssayGrader, https://www.essaygrader.ai/blog/formative-assessment-examples 
  33. Pembelajaran Berdiferensiasi: Pengertian, Manfaat, dan Tujuannya - Acer Indonesia, https://www.acerid.com/pendidikan/pengertian-pembelajaran-berdiferensiasi-dan-manfaatnya 
  34. Differentiated Assessment - OrbRom Center, https://orbrom.com/differentiated-assessment/ 
  35. 10 Benefits Of Formative Assessments - Edsembli, https://edsembli.com/benefits-of-formative-assessments/ 
  36. 9 Benefits of Using Formative Assessment to Increase Student Progress | PowerSchool, https://www.powerschool.com/blog/9-benefits-of-using-formative-assessment-to-increase-student-progress/ 
  37. Differentiated Instruction Supports All Students, https://soeonline.american.edu/blog/differentiated-instruction/ 
  38. Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi di Era Kurikulum Merdeka Untuk Meningkatkan Hasil Belajar - Jurnal FKIP Universitas Mulawarman, https://jurnal.fkip.unmul.ac.id/index.php/geoedusains/article/download/3744/1705/12902 
  39. Model Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka, https://jonedu.org/index.php/joe/article/download/5470/4378/ 
  40. What Are the Advantages of Differentiated Instruction? - Caduceus International Publishing, https://www.cipcourses.com/blog/advantages-of-differentiated-instruction/ 
  41. tantangan implementasi pembelajaran berdiferensiasi - jurnal, https://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/NIVEDANA/article/download/1072/592/ 
  42. lessonseed.com, https://lessonseed.com/blog/8/overcoming-challenges-differentiated-instruction-creative-so#:~:text=Differentiated%20instruction%20is%20a%20powerful,resources%2C%20the%20obstacles%20are%20real. 
  43. Manfaat Asesmen Formatif bagi Tenaga Pendidik dan Peserta Didik - Guruinovatif.id, https://guruinovatif.id/artikel/manfaat-asesmen-formatif-bagi-tenaga-pendidik-dan-peserta-didik 
  44. Differentiated Instruction Isn't Easy. But It's Not Impossible (Opinion) - Education Week, https://www.edweek.org/teaching-learning/opinion-differentiation-isnt-easy-but-its-not-impossible-eitherdifferentiated-instruction-isnt-easy-but-its-not-impossible-either/2024/01 
  45. Decoding Teachers' Dilemma: Unveiling the Real Obstacles to Implementing Formative Assessment in the Classroom - Journal of Qualitative Research in Education, https://enadonline.com/index.php/enad/article/download/2062/1023/13194 

Share: