Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia
Latar Belakang Kurikulum Merdeka dan Urgensi Pembelajaran Berdiferensiasi
Kurikulum Merdeka (KM) menandai pergeseran signifikan dalam lanskap pendidikan Indonesia, diperkenalkan pada tahun 2022 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai respons terhadap krisis pembelajaran, termasuk yang diperparah oleh pandemi COVID-19. Paradigma baru ini mengedepankan kebebasan yang lebih besar bagi peserta didik dalam menentukan jalur pembelajaran mereka. Filosofi inti KM adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa, menempatkan kebutuhan, minat, dan potensi individu siswa sebagai fokus utama dalam merancang dan melaksanakan pendidikan. Pergeseran fundamental ini secara inheren menuntut pendekatan pedagogis yang mampu mengakomodasi keberagaman yang melekat pada setiap siswa.
Pembelajaran Berdiferensiasi (Differentiated Instruction) adalah strategi pengajaran yang secara eksplisit berfokus pada penanganan kebutuhan belajar individual siswa. Urgensinya dalam kerangka Kurikulum Merdeka muncul dari pengakuan eksplisit bahwa siswa memiliki kemampuan, minat, dan gaya belajar yang beragam. Transisi menuju Kurikulum Merdeka lebih dari sekadar pembaruan kurikulum; ini mewujudkan transformasi filosofis yang mendalam. Pergeseran ini, dari model yang berpusat pada konten ke model yang berpusat pada siswa , secara langsung memerlukan adopsi pembelajaran berdiferensiasi. Tanpa diferensiasi yang efektif, prinsip inti Kurikulum Merdeka—yaitu mengakomodasi keunikan siswa—berisiko tetap menjadi tujuan aspiratif daripada kenyataan praktis, yang berpotensi mengarah pada implementasi yang dangkal dan gagal mengubah praktik kelas secara fundamental.
Pentingnya Mengakomodasi Keunikan Siswa dalam Proses Pembelajaran
Setiap siswa yang memasuki ruang kelas membawa serangkaian perbedaan yang unik, termasuk gaya belajar yang bervariasi, pengetahuan awal, tingkat pemahaman, dan minat pribadi. Mengakomodasi keunikan yang melekat ini sangat penting untuk memastikan bahwa setiap siswa dapat mencapai potensi maksimalnya. Pendekatan ini melampaui model pendidikan tradisional yang "satu ukuran untuk semua," yang seringkali gagal melayani peserta didik yang beragam secara efektif.
Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya menarik dan bermakna, tetapi juga sangat personal bagi setiap siswa, sehingga menumbuhkan motivasi intrinsik dan menghasilkan peningkatan hasil akademik. Penekanan kuat pada pengakuan dan akomodasi keunikan siswa dalam Kurikulum Merdeka merupakan indikasi tren global yang lebih luas dalam reformasi pendidikan. Tren ini memprioritaskan pembelajaran yang dipersonalisasi dan menandakan keberangkatan dari model pendidikan standar yang usang. Hal ini mencerminkan pemahaman yang berkembang bahwa pembelajaran yang benar-benar efektif tidak dicapai melalui penyampaian yang seragam, tetapi melalui keterlibatan yang disesuaikan yang menghormati perbedaan kognitif dan afektif individu. Keselarasan ini menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memposisikan pendidikan Indonesia untuk memenuhi standar pedagogis kontemporer. Pergeseran paradigma ini menuntut guru untuk mengembangkan pola pikir mereka dari sekadar penyampai konten menjadi fasilitator pembelajaran yang terampil, di mana kemampuan untuk memahami dan merespons profil siswa individu menjadi kompetensi profesional sentral.
Pembelajaran Berdiferensiasi: Fondasi Pedagogis untuk Keunikan Siswa
Definisi dan Konsep Pembelajaran Berdiferensiasi (Carol Ann Tomlinson)
Pembelajaran Berdiferensiasi, sebagaimana diartikulasikan oleh Carol Ann Tomlinson (1999), didefinisikan sebagai pendekatan pedagogis yang dirancang untuk mengakomodasi, melayani, dan secara eksplisit mengakui keberagaman yang melekat di antara siswa dalam pembelajaran mereka, disesuaikan dengan kesiapan individu, minat, dan gaya belajar pilihan mereka. Pada dasarnya, ini berfungsi sebagai kerangka strategis untuk memfasilitasi dan mengatasi berbagai perbedaan yang ada di antara siswa dalam satu lingkungan kelas.
Prinsip-Prinsip Utama Pembelajaran Berdiferensiasi
Prinsip-prinsip inti yang memandu pembelajaran berdiferensiasi meliputi: mengakui dan merespons individualitas; mengupayakan pencapaian pembelajaran yang komprehensif untuk setiap siswa; secara aktif menumbuhkan dan mempertahankan motivasi siswa; mempertimbangkan konteks dan latar belakang unik setiap siswa; dengan cermat mengatasi minat dan kebutuhan siswa yang beragam; dan merangkul "normalisasi"—memandang keragaman siswa sebagai standar daripada pengecualian. Prinsip-prinsip lebih lanjut menekankan penciptaan lingkungan belajar yang nyaman dan aman, implementasi kurikulum berkualitas tinggi yang secara tepat menantang semua siswa (dari yang mahir hingga yang membutuhkan lebih banyak dukungan), penggunaan asesmen yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi, praktik pengajaran responsif berdasarkan data asesmen, serta pentingnya kepemimpinan kelas yang efektif dan rutinitas yang terstruktur.
Prinsip "normalisasi" merupakan konsep dasar yang sangat penting. Ini menyiratkan bahwa keragaman siswa bukanlah anomali yang harus "dikelola" atau "diperbaiki," melainkan kondisi yang diharapkan dan alami di kelas yang harus dirangkul. Pergeseran mendasar dalam perspektif ini secara kausal memengaruhi cara guru mendekati perencanaan kurikulum dan pengajaran, beralih dari model reaktif berupa remediasi untuk beberapa siswa yang kesulitan menjadi desain proaktif dan inklusif yang secara inheren melayani berbagai jenis peserta didik. Perubahan pola pikir ini sangat mendasar bagi keberhasilan dan keberlanjutan implementasi pembelajaran berdiferensiasi.
Tabel : Prinsip-Prinsip Utama Pembelajaran Berdiferensiasi dan Relevansinya
Aspek-Aspek Diferensiasi: Konten, Proses, dan Produk
Pembelajaran Berdiferensiasi biasanya dioperasionalkan melalui tiga aspek utama: konten, proses, dan produk.
Diferensiasi Konten (Content Differentiation): Aspek ini membahas apa yang diajarkan kepada siswa. Ini melibatkan penyesuaian materi pembelajaran berdasarkan berbagai aspek kesiapan siswa—mulai dari tingkat konkret hingga abstrak, sederhana hingga kompleks, terstruktur hingga terbuka, bergantung hingga mandiri, dan kecepatan belajar yang lambat hingga cepat. Selain itu, diferensiasi konten juga mempertimbangkan minat individu dan profil belajar yang beragam, termasuk faktor lingkungan, pengaruh budaya, serta gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik pilihan siswa. Aspek ini mengharuskan penyediaan berbagai pilihan materi dan penyesuaian tingkat kesulitan konten agar sesuai dengan kebutuhan siswa.
Diferensiasi Proses (Process Differentiation): Aspek ini berfokus pada bagaimana siswa berinteraksi dan memahami materi pembelajaran. Ini melibatkan implementasi berbagai aktivitas, strategi instruksional, dan metode pengelompokan yang fleksibel. Contoh praktis meliputi kegiatan berjenjang (di mana semua siswa bekerja untuk membangun pemahaman yang sama tetapi dengan tingkat dukungan atau kompleksitas yang berbeda), penyediaan pertanyaan pemandu untuk merangsang eksplorasi yang lebih dalam, pembuatan agenda individu, fasilitasi waktu yang fleksibel untuk penyelesaian tugas, pengembangan aktivitas yang beragam untuk mengakomodasi gaya belajar yang berbeda, dan pemanfaatan strategi pengelompokan fleksibel berdasarkan kesiapan, kemampuan, dan minat siswa. Guru memainkan peran penting dalam menentukan jumlah bantuan yang sesuai untuk setiap siswa.
Diferensiasi Produk (Product Differentiation): Aspek ini mengacu pada bagaimana siswa menunjukkan pemahaman dan penguasaan tujuan pembelajaran mereka. Ini memungkinkan berbagai bentuk ekspresi, seperti esai, laporan tertulis, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, atau model. Elemen paling krusial adalah bahwa produk yang dipilih harus secara otentik mencerminkan pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran yang diinginkan. Aspek ini melibatkan pemberian pilihan kepada siswa tentang bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran mereka dan menetapkan harapan yang jelas untuk kualitas produk akhir.
Tabel : Perbandingan Aspek Diferensiasi (Konten, Proses, Produk) dengan Contoh Implementasi
Landasan Teori: Relevansi Vygotsky (Zone of Proximal Development), Gardner (Multiple Intelligences), dan Brain-Based Learning
Pembelajaran berdiferensiasi didukung oleh landasan teoritis yang kuat dari beberapa ahli pendidikan terkemuka, yang secara sinergis mendukung pendekatannya dalam mengakomodasi keunikan siswa.
- Zone of Proximal Development (ZPD) Vygotsky: ZPD dikonseptualisasikan sebagai kesenjangan krusial antara apa yang dapat dicapai peserta didik secara mandiri dan apa yang dapat mereka capai dengan bantuan yang sesuai dari teman sebaya yang lebih berpengetahuan atau orang dewasa. Pembelajaran berdiferensiasi, dengan secara strategis menyediakan tingkat tantangan dan dukungan yang disesuaikan (sering disebut sebagai scaffolding) dalam ZPD siswa, secara langsung selaras dengan teori sosiokultural pembelajaran Vygotsky. Pendekatan ini secara efektif mendorong akuisisi bertahap keterampilan dan pengetahuan baru, membangun secara bermakna di atas pemahaman siswa yang sudah ada.
- Multiple Intelligences Gardner: Teori Howard Gardner menyatakan bahwa kecerdasan manusia bukanlah entitas tunggal yang monolitik, melainkan terdiri dari kecerdasan yang berbeda dan relatif independen (misalnya, linguistik, logis-matematis, musikal, kinestetik-tubuh, spasial, interpersonal, intrapersonal, naturalis). Pembelajaran berdiferensiasi secara aktif mengakomodasi kecerdasan yang beragam ini dengan memvariasikan metode dan pendekatan instruksional, memungkinkan siswa untuk terlibat dengan materi dan menunjukkan pemahaman dengan cara yang paling sesuai dengan kekuatan alami dan jalur belajar pilihan mereka.
- Brain-Based Learning (BBL): BBL adalah pendekatan pendidikan yang berakar pada ilmu saraf, menekankan bahwa lingkungan dan strategi pembelajaran harus dirancang agar selaras dengan cara otak belajar secara alami. Ini mengakui bahwa setiap otak individu itu unik, dan akibatnya, setiap siswa memiliki gaya belajar pilihan mereka sendiri. Teknik BBL, yang telah diadopsi secara internasional, memprioritaskan pelibatan sistem emosional siswa dan menumbuhkan hubungan yang bermakna antara intelektual dan emosi, sehingga meningkatkan perhatian dan efikasi pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi, melalui adaptabilitasnya terhadap gaya belajar individu dan fokusnya pada penciptaan pengalaman yang bermakna dan menarik secara pribadi, secara inheren mendukung prinsip-prinsip Brain-Based Learning.
Integrasi sinergis dari teori-teori pendidikan terkemuka ini (Vygotsky, Gardner, dan Brain-Based Learning) memberikan fondasi ilmiah dan psikologis yang kuat untuk pembelajaran berdiferensiasi. Landasan teoritis ini mengangkat diferensiasi melampaui sekadar kumpulan strategi pedagogis, menjadikannya sebagai pendekatan berbasis bukti yang berakar kuat dalam ilmu kognitif, psikologi perkembangan, dan ilmu saraf. Dukungan teoritis yang komprehensif ini secara signifikan memperkuat argumen untuk kebutuhan dan efektivitasnya dalam benar-benar mengakomodasi keunikan siswa.
Kurikulum Merdeka: Filosofi dan Karakteristik dalam Menghargai Keunikan
Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai Dasar Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka berakar kuat pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang merupakan landasan pedagogi Indonesia. Prinsip-prinsip utama filosofi ini, yang secara langsung tercermin dalam Kurikulum Merdeka, meliputi: "Pendidikan untuk Semua," yang menekankan inklusivitas tanpa memandang latar belakang, gender, atau budaya; "Pendidikan Berbasis Budaya," yang menghargai identitas lokal sambil merangkul perspektif global; "Pendidikan Holistik," yang menyeimbangkan pengembangan akademik, fisik, emosional, dan sosial; "Pendidikan Karakter," yang menumbuhkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, gotong royong, dan disiplin; "Pendidikan Relevan dengan Kehidupan," yang memastikan pengetahuan dan keterampilan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata; dan "Pendidikan sebagai Alat Pembebasan," yang memberdayakan individu dan masyarakat untuk mengatasi berbagai bentuk ketidakadilan.
Filosofi Ki Hajar Dewantara, khususnya prinsip "Pendidikan untuk Semua" dan "Pendidikan Holistik" , secara langsung menuntut implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Jika sistem pendidikan benar-benar bertujuan untuk melayani semua siswa dan mendorong perkembangan holistik mereka, pendekatan yang seragam dan terstandardisasi akan menjadi kontradiktif dan tidak efektif. Dalam konteks ini, pembelajaran berdiferensiasi muncul sebagai manifestasi praktis dan operasional dari visi inklusif dan holistik ini. Hal ini memberikan justifikasi budaya dan nasional yang kuat untuk adopsi pembelajaran berdiferensiasi di Indonesia, memposisikan diferensiasi tidak hanya sebagai tren pedagogis impor, tetapi sebagai perwujudan cita-cita pendidikan nasional yang dipegang teguh.
Karakteristik Utama Kurikulum Merdeka: Fleksibilitas, Fokus Esensial, dan Pengembangan Karakter
Kurikulum Merdeka dicirikan oleh beberapa fitur utama yang membedakannya dan mendukung pendekatannya yang berpusat pada siswa:
Fleksibilitas: Kurikulum Merdeka menawarkan fleksibilitas yang jauh lebih besar dalam menentukan jalur pembelajaran, mencakup aspek-aspek seperti waktu, tempat, dan materi pembelajaran spesifik. Fleksibilitas ini memberdayakan sekolah dan guru untuk menyesuaikan materi dan metode pengajaran agar selaras dengan konteks lokal dan kebutuhan spesifik siswa mereka, sehingga memberi mereka otonomi untuk merancang pengalaman belajar yang sangat relevan dan sesuai dengan kondisi kelas yang sebenarnya.
Fokus Esensial: Kurikulum ini secara strategis mengurangi beban materi yang tidak esensial, memungkinkan siswa untuk memusatkan upaya mereka pada pemahaman mendalam dan penguasaan konsep inti yang penting. Fokus yang ditargetkan ini dirancang untuk menghasilkan hasil pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan.
Pengembangan Kompetensi dan Karakter: Selain aspek kognitif tradisional, Kurikulum Merdeka sangat menekankan pengembangan karakter dan kompetensi siswa secara holistik. Ini termasuk menumbuhkan kualitas seperti kerja sama, integritas, dan empati, yang sering diintegrasikan melalui berbagai kegiatan, terutama Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Pengakuan dan Penekanan Kurikulum Merdeka terhadap Keunikan Individu Siswa
Kurikulum Merdeka secara fundamental memandang siswa sebagai subjek aktif yang memainkan peran sentral dan dinamis dalam proses belajar mereka sendiri, bukan sebagai penerima informasi pasif. Kurikulum ini secara eksplisit mengakui dan menghargai bahwa setiap individu memiliki karakteristik unik, minat yang berbeda, dan potensi yang beragam. Salah satu tujuan utama Kurikulum Merdeka adalah untuk mendukung pengembangan kecerdasan dominan siswa sambil secara bersamaan menyediakan banyak kesempatan untuk mengembangkan semua jenis kecerdasan yang mungkin mereka miliki.
Fleksibilitas yang melekat dan fokus strategis pada materi esensial dalam Kurikulum Merdeka berfungsi sebagai pendukung krusial untuk implementasi pembelajaran berdiferensiasi yang efektif. Dengan mengurangi kendala kurikulum yang terlalu kaku dan mengurangi beban konten, Kurikulum Merdeka secara aktif menciptakan kondisi yang diperlukan bagi guru untuk benar-benar memenuhi keunikan siswa secara individual. Tanpa fleksibilitas yang terintegrasi ini, penerapan praktis diferensiasi akan menjadi jauh lebih menantang, jika tidak tidak praktis. Hal ini menyoroti bahwa inovasi pedagogis yang efektif, seperti pembelajaran berdiferensiasi, tidak hanya bergantung pada keterampilan guru tetapi juga sangat dipengaruhi oleh desain kurikulum secara keseluruhan. Kurikulum Merdeka sengaja distrukturkan untuk menjadi kurikulum yang "ramah diferensiasi."
Integrasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Bagaimana Kurikulum Merdeka Memfasilitasi Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi
Penekanan fundamental Kurikulum Merdeka pada fleksibilitas dan pendekatan yang berpusat pada siswa secara langsung selaras dengan dan secara aktif memfasilitasi integrasi pembelajaran berdiferensiasi yang mulus. Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk menggunakan kreativitas dan otonomi dalam menerapkan kurikulum, bahkan memungkinkan pengembangan kurikulum operasional secara mandiri di tingkat sekolah. Guru diberdayakan dengan kebebasan untuk memilih dan menyesuaikan alat dan sumber daya pengajaran yang secara khusus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sebuah praktik yang telah terbukti secara signifikan meningkatkan minat dan keterlibatan siswa. Kurikulum ini mendukung pemanfaatan metode pembelajaran yang bervariasi, sumber daya yang beragam, dan berbagai kegiatan, semuanya dirancang untuk secara nyaman sesuai dengan gaya dan preferensi belajar siswa yang berbeda.
Peran Guru sebagai Fasilitator dan Penyesuai Pembelajaran
Dalam konteks pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka, peran guru mengalami transformasi signifikan: dari yang semula terutama sebagai penyedia informasi langsung menjadi pembimbing dan fasilitator pembelajaran yang dinamis. Guru diwajibkan untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam dan bernuansa tentang kebutuhan belajar individu siswa, sebuah proses yang sering dimulai dan dipertahankan melalui asesmen diagnostik dan formatif yang berkelanjutan. Mereka memikul tanggung jawab untuk terus menyesuaikan pengajaran, memberikan dukungan yang berkelanjutan dan disesuaikan, serta memastikan bahwa semua siswa mencapai tujuan pembelajaran mereka melalui penerapan metode asesmen yang beragam. Yang terpenting, guru diharapkan dapat memberikan pilihan yang bermakna kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran dan asesmen, sehingga memberdayakan siswa untuk mengambil kepemilikan atas perjalanan belajar mereka dan secara aktif berpartisipasi dalam penilaian diri.
Pergeseran mendasar peran guru dari "penyedia informasi langsung" menjadi "pembimbing dan fasilitator" merupakan faktor penyebab krusial dalam memungkinkan diferensiasi yang benar-benar efektif. Pergeseran ini menuntut guru untuk mengembangkan seperangkat keterampilan tingkat lanjut yang baru, termasuk observasi yang tajam, diagnosis yang tepat atas kebutuhan belajar, dan perencanaan yang sangat adaptif secara real-time, melampaui sekadar menyampaikan kurikulum yang tetap. Ini menyiratkan beban kognitif yang jauh lebih tinggi dan seperangkat keterampilan yang lebih canggih yang diperlukan untuk pendidik kontemporer. Oleh karena itu, pelatihan guru dan pengembangan profesional berkelanjutan harus sangat menekankan pada penanaman keterampilan fasilitasi dan perencanaan adaptif ini, daripada hanya berfokus pada pengetahuan konten atau metodologi pengajaran tradisional.
Manfaat Pembelajaran Berdiferensiasi bagi Siswa dan Guru dalam Konteks Kurikulum Merdeka
Implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka menawarkan berbagai manfaat substansial bagi peserta didik dan pendidik, yang secara kolektif meningkatkan kualitas pengalaman belajar.
Bagi Siswa:
- Pertumbuhan yang Merata: Pembelajaran berdiferensiasi dirancang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang setara bagi semua siswa, memungkinkan setiap individu mencapai potensi maksimalnya.
- Pembelajaran yang Menyenangkan: Dengan mengadopsi berbagai strategi yang selaras dengan beragam gaya belajar siswa, pembelajaran berdiferensiasi menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan mudah diakses, membuat pembelajaran terasa lebih mudah dan menarik.
- Pembelajaran yang Dipersonalisasi: Pendekatan ini memusatkan pembelajaran pada kebutuhan, preferensi, dan minat siswa secara individual, menghasilkan perjalanan pendidikan yang sangat personal.
- Peningkatan Motivasi & Keterlibatan: Siswa merasa diakui, dihormati, dan didukung, yang secara signifikan menumbuhkan motivasi dan keterlibatan aktif mereka dalam proses pembelajaran.
- Regulasi Diri: Ini secara aktif mendorong siswa untuk mengambil kepemilikan yang lebih besar atas pembelajaran mereka, mempromosikan keterampilan penting dalam penilaian diri dan refleksi.
- Peningkatan Hasil Belajar: Dengan mengatasi kesenjangan belajar individu dan memberikan tingkat tantangan yang sesuai, pembelajaran berdiferensiasi secara konsisten mengarah pada peningkatan hasil akademik.
Bagi Guru:
- Pemahaman Mendalam tentang Siswa: Membantu guru secara akurat mengidentifikasi kebutuhan belajar individu, kekuatan, kelemahan, dan miskonsepsi umum.
- Strategi Pembelajaran yang Lebih Baik: Memungkinkan guru untuk merefleksikan secara kritis metode pengajaran mereka saat ini dan menyesuaikannya untuk efektivitas yang lebih besar dan responsif terhadap kebutuhan siswa.
- Keputusan Berbasis Data: Memberikan umpan balik yang berkelanjutan dan dapat ditindaklanjuti yang menginformasikan keputusan instruksional, membuat pengajaran lebih tepat dan berdampak.
- Manajemen Kelas yang Efektif: Mendukung pengelolaan kelas yang beragam secara efektif dengan memungkinkan dukungan yang disesuaikan dan strategi keterlibatan.
- Pertumbuhan Profesional: Mendorong pengembangan profesional guru yang berkelanjutan dalam metodologi pengajaran adaptif dan inovasi pedagogis.
Manfaat nyata yang dialami oleh siswa (misalnya, peningkatan motivasi, peningkatan hasil akademik) menciptakan lingkaran umpan balik positif yang kuat yang memperkuat komitmen dan investasi guru dalam pembelajaran berdiferensiasi. Ketika guru mengamati peningkatan konkret dalam keterlibatan dan kinerja siswa, hal itu memvalidasi upaya mereka dan mendorong penerapan strategi berdiferensiasi yang berkelanjutan. Motivasi intrinsik ini merupakan faktor krusial dalam membantu guru mengatasi tantangan inheren dalam implementasi. Menyoroti manfaat timbal balik ini dapat menjadi argumen yang kuat untuk mempromosikan dan mempertahankan pembelajaran berdiferensiasi, menekankan bahwa investasi dalam diferensiasi menghasilkan pengembalian yang signifikan dan berkelanjutan bagi peserta didik dan pendidik, menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih dinamis dan efektif.
Asesmen Formatif: Kunci Mengakomodasi Keunikan Siswa dalam Diferensiasi
Definisi, Tujuan, dan Karakteristik Asesmen Formatif
Asesmen formatif adalah proses evaluasi yang digunakan oleh guru dan siswa sebagai bagian dari instruksi yang memberikan umpan balik berkelanjutan untuk menyesuaikan pengajaran dan pembelajaran guna meningkatkan pencapaian konten inti. Ini memantau pemahaman, kebutuhan, dan kemajuan siswa selama instruksi. Tujuan utamanya bukan hanya untuk mengukur hasil pembelajaran, tetapi untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran itu sendiri.
- Tujuan spesifik asesmen formatif meliputi:
- Mengidentifikasi pemahaman siswa, termasuk penguasaan menyeluruh atau parsial, miskonsepsi, dan kebutuhan pembelajaran.
- Memberikan umpan balik yang konstruktif dan berkelanjutan kepada siswa dan guru.
- Menyesuaikan instruksi dan strategi pengajaran agar sesuai dengan kebutuhan siswa.
- Mendorong regulasi diri dan motivasi belajar siswa.
Karakteristik utama asesmen formatif meliputi:
- Risiko Rendah (Low-stakes): Umumnya tidak berisiko tinggi dan tidak digunakan untuk menentukan nilai rapor atau keputusan kenaikan kelas.
- Beragam Teknik dan Instrumen: Dapat menggunakan berbagai metode, baik tertulis maupun tidak tertulis, seperti diskusi, drama, produk, tes lisan, refleksi, jurnal, esai, dan tes tertulis.
- Terintegrasi dengan Pembelajaran: Dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung, menjadikannya satu kesatuan dengan kegiatan belajar.
- Metode Sederhana: Sering menggunakan metode yang sederhana agar umpan balik dapat diperoleh dengan cepat.
- Diagnostik Awal: Dilakukan di awal pembelajaran untuk mengidentifikasi kesiapan belajar siswa dan merancang pembelajaran yang sesuai.
- Fokus pada Peningkatan: Hasil asesmen memberikan informasi tentang kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan, bukan sekadar angka.
- Progresif dan Berkelanjutan: Bersifat progresif, dapat dilakukan di tengah perjalanan program atau kegiatan pembelajaran , serta memberikan umpan balik berkelanjutan.
- Buatan Guru: Dirancang oleh guru sebagai asesor atau penilai hasil belajar siswa.
- Keterlibatan Siswa: Mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam penilaian diri dan penilaian antar teman.
Prinsip-Prinsip Asesmen Formatif yang Efektif
Asesmen formatif yang efektif didasarkan pada beberapa prinsip utama yang memastikan relevansi dan dampaknya terhadap proses pembelajaran:
- Holistik dan Komprehensif: Asesmen harus mengukur aspek yang seharusnya diukur dan bersifat holistik, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
- Umpan Balik Langsung dan Membangun: Pendidik senantiasa memberikan umpan balik langsung yang mendorong kemampuan peserta didik untuk terus belajar dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Umpan balik harus bersifat deskriptif dan bukan hanya evaluatif.
- Pertanyaan Terbuka: Penggunaan pertanyaan terbuka yang menstimulasi pemikiran mendalam.
- Keterlibatan Orang Tua: Melibatkan orang tua dalam proses belajar melalui komunikasi dua arah.
- Motivasi dan Tanggung Jawab Siswa: Memotivasi peserta didik untuk menyadari masa depan adalah milik mereka dan perlu mengambil peran serta tanggung jawab.
- Keterlibatan dalam Pemecahan Masalah: Melibatkan peserta didik dalam mencari solusi permasalahan di keseharian yang sesuai dengan tahapan belajarnya.
- Pemanfaatan Projek Profil Pelajar Pancasila: Memanfaatkan projek penguatan profil pelajar Pancasila untuk membangun karakter dan kompetensi peserta didik.
- Asesmen Awal untuk Kesiapan: Menguatkan asesmen di awal pembelajaran untuk merancang pembelajaran sesuai kesiapan peserta didik.
- Tujuan Pembelajaran yang Jelas: Merencanakan pembelajaran dengan merujuk pada tujuan yang hendak dicapai dan memberikan kejelasan tujuan asesmen kepada peserta didik di awal pembelajaran.
- Kesempatan Refleksi Diri: Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berefleksi tentang kemampuan mereka dan cara meningkatkannya berdasarkan hasil asesmen.
- Tingkat Kesulitan yang Tepat: Merancang asesmen untuk mendorong peningkatan kompetensi melalui tingkat kesulitan yang tepat.
- Validitas dan Reliabilitas: Asesmen harus valid (mengukur apa yang seharusnya diukur) dan reliabel (konsisten hasilnya).
- Keadilan dan Kepraktisan: Asesmen harus adil (tidak bias) dan praktis (mempertimbangkan batasan waktu dan sumber daya).
Manfaat Asesmen Formatif bagi Pendidik dan Peserta Didik
Asesmen formatif memberikan manfaat yang signifikan bagi kedua belah pihak dalam proses pembelajaran:
Tabel 3: Karakteristik dan Manfaat Asesmen Formatif bagi Guru dan Siswa
Strategi dan Contoh Implementasi Asesmen Formatif dalam Pengajaran Membaca
Asesmen formatif dalam pengajaran membaca sangat penting untuk memantau pemahaman siswa dan menyesuaikan instruksi secara real-time. Berbagai strategi dapat diterapkan, baik secara umum maupun khusus untuk keterampilan membaca:
Strategi Umum Asesmen Formatif:
- Diskusi Kelas/Kelompok: Mendorong siswa untuk mengemukakan pendapat, berdemokrasi, dan merespons perspektif yang berbeda. Ini mengembangkan kemampuan komunikasi dan berpikir kritis.
- Tes Lisan/Kuis: Kuis tanya jawab lisan untuk mengonfirmasi pemahaman siswa dan menerapkan umpan balik cepat.
- Tugas Tertulis: Refleksi (mengevaluasi belajar sendiri), jurnal (merefleksikan perkembangan berkelanjutan), esai (mengasah keterampilan menulis akademis dan berpikir kritis), dan produk digital atau miniatur 3D (mengembangkan kreativitas dan komunikasi).
- Projek/Kinerja: Tugas yang menuntut siswa mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke berbagai konteks, seperti karya seni atau pentas teater.
- Penilaian Diri dan Antar Teman: Memberikan kesempatan siswa untuk mengevaluasi diri dan teman sebaya, mendorong refleksi dan tanggung jawab atas pembelajaran.
- Observasi: Pengamatan perilaku siswa secara berkesinambungan dalam tugas harian atau interaksi kelas.
Strategi Khusus untuk Keterampilan Membaca:
- Membuat Koneksi: Siswa menunjukkan pemahaman dengan membuat koneksi teks-ke-teks, teks-ke-diri, atau teks-ke-dunia.
- Meringkas Cerita/Teks: Menggunakan graphic organizers (peta cerita, 5W) atau teknik meringkas 3X (10-15 kata, 30-50 kata, 75-100 kata) untuk mengukur pemahaman.
- Menggambar/Memvisualisasikan Cerita: Meminta siswa menggambar visualisasi dari bacaan dan menjelaskan gambar tersebut, menunjukkan kemampuan pembaca yang kuat dalam memvisualisasikan.
- Membuat Prediksi: Menguji pemahaman karakter dengan meminta siswa membuat prediksi di momen penting plot, didukung oleh tindakan karakter sebelumnya.
- Kerja Kata dan Kosa Kata: Meminta siswa menjelaskan arti kata dan bagaimana mereka mengetahuinya.
- Inferensi: Meminta siswa membuat inferensi berdasarkan informasi yang ada dan menjelaskan bagaimana inferensi tersebut dibuat.
- Think-Pair-Share: Siswa berpikir sendiri tentang pertanyaan teks, berpasangan untuk berdiskusi, lalu berbagi pemikiran dengan kelas.
- Quickwrites: Latihan menulis singkat berjangka waktu untuk menunjukkan pemahaman topik atau sebagai awal proyek menulis yang lebih panjang.
- TQE (Thoughts, Questions, Epiphanies): Metode siswa untuk mencatat pemikiran mereka sendiri tentang apa yang mereka baca, mendorong pembelajaran mandiri.
Studi Kasus dan Praktik Nyata:
- Studi Kasus Tana Tidung: Di Tana Tidung, asesmen formatif disertai pelatihan, kurikulum khusus, Lembar Kerja Siswa (LAS), dan pendampingan berhasil meningkatkan keterampilan membaca siswa secara signifikan. Contohnya, kemampuan membaca seorang siswa bernama Fauzan meningkat dari mengenal huruf menjadi lancar membaca kata dalam lima bulan. Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya kebijakan yang tepat untuk mendukung guru.
- Studi Kasus Madrasah Tsanawiyah Ciamis: Penelitian di Madrasah Tsanawiyah di Ciamis, Jawa Barat, menunjukkan bahwa asesmen formatif tetap dilakukan meskipun dalam kondisi pembelajaran tatap muka terbatas. Strategi yang digunakan meliputi pertanyaan, diskusi, presentasi, membuat dialog sederhana, bermain peran, dan interpretasi gambar. Siswa menunjukkan antusiasme dan motivasi, meskipun beberapa masih kurang percaya diri.
Tabel 4: Contoh Strategi Asesmen Formatif untuk Keterampilan Membaca
Tantangan dan Solusi dalam Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Asesmen Formatif
Implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen formatif dalam Kurikulum Merdeka, meskipun sangat bermanfaat, tidak luput dari berbagai tantangan. Mengidentifikasi dan mengatasi kendala ini sangat penting untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan pendekatan pedagogis ini.
Identifikasi Kendala Umum (Waktu, Sumber Daya, Keterampilan Guru, Ukuran Kelas)
- Keterbatasan Waktu: Guru seringkali menghadapi tekanan untuk menyelesaikan kurikulum yang luas, menyisakan sedikit waktu untuk asesmen formatif. Menyeimbangkan antara penyampaian konten dan pengumpulan data formatif menjadi sulit. Analisis data siswa dan mengubahnya menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti juga memakan waktu, dan memberikan umpan balik yang tepat waktu serta spesifik kepada semua siswa bisa sangat membebani, terutama di kelas-kelas besar.
- Sumber Daya Terbatas: Ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, seperti proyektor atau akses ke berbagai bahan ajar dan alat analisis data, seringkali menjadi kendala. Sekolah mungkin tidak memiliki dukungan keuangan yang berkelanjutan untuk menyediakan materi pembelajaran yang beragam untuk setiap topik.
- Kesenjangan Keterampilan dan Pengetahuan Guru: Tidak semua guru memiliki keterampilan yang diperlukan untuk merencanakan, mengimplementasikan, dan menganalisis asesmen formatif secara efektif. Ada kebutuhan akan literasi asesmen yang mendalam dan pergeseran budaya dari fokus tradisional pada asesmen sumatif. Guru mungkin belum merasa yakin dalam menggunakan berbagai alat penilaian formatif dan kurang berkolaborasi dalam penerapannya.
- Ukuran Kelas yang Besar: Jumlah siswa yang banyak di setiap kelas membuat sulit untuk memberikan perhatian dan umpan balik individual. Ini juga membatasi peluang untuk melakukan penilaian sebaya dan penilaian diri secara efektif.
- Kurikulum yang Kaku (sebelum fleksibilitas KM): Meskipun Kurikulum Merdeka bertujuan untuk fleksibilitas, batasan kurikulum di masa lalu masih menjadi tantangan dalam memungkinkan siswa belajar sesuai kebutuhan mereka.
- Tantangan Psikologis: Beberapa siswa mungkin merasa frustrasi atau marah ketika pembelajaran berdiferensiasi menyingkap perbedaan kemampuan mereka dibandingkan teman sekelasnya. Guru harus menciptakan lingkungan inklusif yang mendukung dan mendorong perkembangan setiap siswa.
Strategi Mengatasi Tantangan dan Membangun Lingkungan Belajar yang Suportif
Untuk mengatasi kendala-kendala ini, diperlukan pendekatan multifaset yang melibatkan pengembangan kapasitas guru, optimalisasi sumber daya, dan fostering lingkungan yang kolaboratif.
- Pengembangan Profesional Guru: Pelatihan intensif dan berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan keterampilan guru dalam merancang, melaksanakan, dan menganalisis asesmen formatif. Ini harus mencakup fokus pada literasi asesmen, pengajaran adaptif, dan kemampuan untuk menafsirkan data menjadi penyesuaian instruksional yang berarti.
- Perencanaan Kolaboratif: Mendorong kolaborasi antar guru dan dengan administrator sekolah dalam merancang asesmen dan strategi pembelajaran berdiferensiasi. Ini dapat membantu berbagi beban kerja dan keahlian.
- Pemanfaatan Teknologi: Menggunakan platform digital dan alat teknologi untuk memfasilitasi asesmen formatif dan pengelolaan diferensiasi. Alat seperti Google Classroom, Kahoot, Quizlet, Quizizz, Socrative, atau fitur audio/video pada platform asesmen dapat membantu dalam melakukan penilaian cepat, mengelola data, dan menghilangkan hambatan membaca atau menulis bagi siswa.
- Keterlibatan Aktif Siswa: Memberdayakan siswa untuk terlibat dalam penilaian diri, umpan balik sebaya, refleksi, dan penetapan tujuan belajar mereka sendiri. Hal ini tidak hanya mengurangi beban guru tetapi juga meningkatkan regulasi diri dan motivasi siswa.
- Pengelompokan Fleksibel dan Aktivitas Bervariasi: Menerapkan pengelompokan siswa yang fleksibel dan menyediakan berbagai aktivitas yang disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa.
- Ekspektasi Jelas dan Rubrik: Memberikan kriteria keberhasilan yang jelas dan menggunakan rubrik untuk memandu siswa dalam memahami ekspektasi dan meningkatkan kualitas pekerjaan mereka.
- Lingkungan Belajar Positif: Menciptakan lingkungan kelas yang suportif dan inklusif di mana siswa merasa aman untuk mengambil risiko, belajar dari kesalahan, dan berkolaborasi.
Peran Kolaborasi dan Pengembangan Profesional Berkelanjutan
Kolaborasi merupakan elemen krusial dalam mengatasi tantangan implementasi. Kemitraan yang kuat antara guru, kepala sekolah, orang tua, dan komunitas yang lebih luas sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan berbagi praktik terbaik. Program pengembangan profesional berkelanjutan sangat direkomendasikan untuk guru. Program-program ini harus berfokus pada literasi asesmen, pengajaran adaptif, dan penanaman pola pikir inklusif terhadap keragaman siswa. Ini bukan solusi sekali jadi, melainkan proses berkelanjutan yang memerlukan dukungan sistemik dan komitmen jangka panjang.
Tabel 5: Tantangan Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Asesmen Formatif beserta Solusi yang Direkomendasikan
Kesimpulan dan Rekomendasi
Sintesis Temuan Utama
Pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka merupakan strategi pedagogis yang esensial untuk mengakomodasi keunikan siswa. Kurikulum Merdeka, yang berakar pada filosofi Ki Hajar Dewantara, secara fundamental berpusat pada siswa, menekankan fleksibilitas, fokus esensial, dan pengembangan karakter. Filosofi ini secara inheren menuntut pendekatan yang menghargai dan merespons keragaman siswa, menjadikan pembelajaran berdiferensiasi sebagai manifestasi praktis dari visi pendidikan holistik dan inklusif.
Landasan teoritis pembelajaran berdiferensiasi, yang didukung oleh teori Zone of Proximal Development Vygotsky, Multiple Intelligences Gardner, dan Brain-Based Learning, memberikan argumen kuat untuk efektivitasnya. Teori-teori ini secara kolektif menunjukkan bahwa pembelajaran yang disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa akan menghasilkan keterlibatan yang lebih dalam, motivasi yang lebih tinggi, dan pencapaian akademik yang lebih baik.
Asesmen formatif muncul sebagai kunci utama dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Dengan karakteristiknya yang berkelanjutan, berisiko rendah, dan berfokus pada umpan balik, asesmen formatif memungkinkan guru untuk secara akurat mendiagnosis kebutuhan belajar siswa dan menyesuaikan instruksi secara real-time. Manfaatnya sangat luas, baik bagi siswa (peningkatan motivasi, regulasi diri, dan hasil belajar) maupun bagi guru (pemahaman mendalam tentang siswa, strategi pengajaran yang lebih efektif, dan keputusan berbasis data).
Meskipun demikian, implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen formatif menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait keterbatasan waktu, sumber daya, kesenjangan keterampilan guru, dan ukuran kelas yang besar. Mengatasi tantangan ini memerlukan upaya kolaboratif dan pengembangan profesional berkelanjutan.
Implikasi untuk Praktik Pendidikan dan Kebijakan
Implikasi dari analisis ini sangat mendalam bagi praktik pendidikan dan perumusan kebijakan. Bagi praktik pendidikan, guru harus bertransformasi dari penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran yang adaptif, yang mampu merespons kebutuhan individual siswa secara dinamis. Ini memerlukan peningkatan kapasitas guru dalam observasi, diagnosis, dan perencanaan instruksional yang fleksibel. Bagi kebijakan, keberhasilan Kurikulum Merdeka sangat bergantung pada dukungan sistemik yang memungkinkan diferensiasi. Ini mencakup alokasi sumber daya yang memadai, pengembangan kurikulum operasional yang lebih adaptif di tingkat sekolah, dan investasi berkelanjutan dalam pengembangan profesional guru yang komprehensif.
Rekomendasi untuk Peningkatan Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Asesmen Formatif di Kurikulum Merdeka
Berdasarkan temuan dan implikasi yang telah diuraikan, berikut adalah rekomendasi strategis untuk meningkatkan implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen formatif dalam Kurikulum Merdeka:
- Penguatan Kapasitas Guru yang Komprehensif: Mengembangkan dan melaksanakan program pengembangan profesional yang intensif dan berkelanjutan. Program ini harus fokus pada metodologi pembelajaran berdiferensiasi, teknik asesmen formatif yang beragam, dan analisis data untuk penyesuaian instruksional. Penting juga untuk menanamkan pola pikir "normalisasi" terhadap keragaman siswa, sehingga guru memandang perbedaan sebagai aset, bukan hambatan.
- Penyediaan Sumber Daya yang Memadai dan Aksesibel: Memastikan ketersediaan dan aksesibilitas sumber daya pembelajaran yang beragam, termasuk bahan ajar cetak dan digital, serta infrastruktur teknologi yang mendukung implementasi asesmen formatif dan diferensiasi. Ini termasuk alat untuk manajemen dan analisis data asesmen yang efisien.
- Pengembangan Kurikulum Operasional yang Lebih Adaptif: Memberdayakan satuan pendidikan untuk lebih lanjut menyesuaikan kurikulum operasional mereka agar benar-benar mencerminkan konteks lokal dan kebutuhan spesifik siswa, melampaui sekadar kepatuhan terhadap pedoman pusat. Ini akan memberikan ruang bagi guru untuk berinovasi dan beradaptasi.
- Mendorong Kolaborasi Ekosistem Pendidikan: Membangun dan memperkuat kemitraan yang erat antara guru, pemimpin sekolah, orang tua, dan komunitas yang lebih luas. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang suportif, berbagi praktik terbaik, dan mengatasi tantangan secara kolektif.
- Penelitian dan Evaluasi Berkelanjutan: Melakukan penelitian dan evaluasi yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengidentifikasi strategi yang paling efektif, mengukur dampak implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen formatif, serta menyempurnakan pendekatan berdasarkan bukti empiris. Ini harus mencakup pengumpulan data kualitatif tentang pengalaman guru dan persepsi siswa untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif.
REFERENSI
- Memahami Filosofi Kurikulum Merdeka - Kak Candra, https://kakcandra.com/memahami-filosofi-kurikulum-merdeka
- STUDI KASUS PEMBELAJARAN DIFERENSIASI DALAM KURIKULUM MERDEKA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI DI SMA NEGERI 1 TARAKAN, https://repository.ubt.ac.id/repository/UBT08-01-2025-131921.pdf
- dampak pelaksanaan kurikulum merdeka belajar terhadap pembelajaran pendidikan agama islam - Ejournal Universitas Dharmas Indonesia (UNDHARI), https://ejournal.undhari.ac.id/index.php/de_journal/article/download/1345/683/8573
- Filosofi Pendidikan dalam Kurikulum Merdeka, https://disdik.hsu.go.id/2024/08/05/filosofi-pendidikan-dalam-kurikulum-merdeka/
- Pembelajaran Berdiferensiasi: Pengertian, Manfaat, dan Tujuannya - Acer Indonesia, https://www.acerid.com/pendidikan/pengertian-pembelajaran-berdiferensiasi-dan-manfaatnya
- PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI SEKOLAH DASAR - jurnal - Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, https://jurnal.unipasby.ac.id/jurnal_inventa/article/download/8739/5335/29002
- Model Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka, https://jonedu.org/index.php/joe/article/download/5470/4378/
- Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka Belajar: Strategi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pendidikan Agama Kristen, https://jurnal.sttarastamarngabang.ac.id/index.php/sinarkasih/article/download/328/311/1205
- Begini Karakteristik Kurikulum Merdeka yang Wajib Dipahami - ESQ Business School, https://esqbs.ac.id/begini-karakteristik-kurikulum-merdeka-yang-wajib-dipahami/
- Berbagai Tantangan Pembelajaran Berdiferensiasi - Guruinovatif.id, https://guruinovatif.id/artikel/berbagai-tantangan-pembelajaran-berdiferensiasi
- Pembelajaran Berdiferensiasi: Antara Manfaat dan Tantangannya, https://bgpsumsel.kemdikbud.go.id/pembelajaran-berdiferensiasi-antara-manfaat-dan-tantangannya/
- 5 Karakteristik Siswa dalam Kurikulum Merdeka - Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa, https://www.ybkb.or.id/5-karakteristik-siswa-dalam-kurikulum-merdeka/
- Evaluasi Metode Penilaian Perkembangan Siswa dan Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka Pada Sekolah Dasar - Penerbit, https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/metta/article/download/2990/1412
- implementasi strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam ..., https://jurnal.markandeyabali.ac.id/index.php/deiksis/article/download/54/50/
- Aspek dan Prinsip Pembelajaran Berdiferensiasi yang Harus Guru Ketahui - Guruinovatif.id, https://guruinovatif.id/artikel/aspek-dan-prinsip-pembelajaran-berdiferensiasi-yang-harus-guru-ketahui
- The Global Aspects of Brain-Based Learning - ERIC, https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ868336.pdf
- edumaged.wordpress.com, https://edumaged.wordpress.com/2023/04/19/what-is-vygotskys-theory-of-differentiation-and-why-you-should-consider-it/#:~:text=The%20ZPD%20is%20the%20gap,providing%20support%20within%20their%20ZPD.