Ayo Berlangganan

Ayo Berlangganan

CONTOH KARYA ILMIAH PENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS II DALAM PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL TENTANG KEDUDUKAN DAN PERAN DALAM KELUARGA DENGAN MENGGUNAKAN METODE BERMAIN PERAN SDN 003 SEBATIK TENGAH



PENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS II DALAM PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL TENTANG KEDUDUKAN DAN PERAN DALAM KELUARGA DENGAN MENGGUNAKAN METODE BERMAIN PERAN SDN 003 SEBATIK TENGAH


Herfan, Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka Tarakan


ABSTRAK
Permasalahan mendasar dalam penelitian ini adalah terbatasnya minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS kelas II SDN 003 Sebatik Tengah. Hal ini berkaitan dengan penggunaan pendekatan, strategi pembelajaran dan metode yang digunakan. Penggunaan metode bermain peran ini bertujuan untuk meningkatakan dan mengembangkan minat siswa dan kemampuan inovasi profesional guru dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Dapat diartikan bahwa penelitian ini juga membantu guru dalam meningkatkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Hal ini karena dapat melibatkan siswa dalam pembelajaran IPS di kelas II, melalui sebuah tindakan yang direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi serta direfleksikan.
Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan profesional keguruannya. karena pembelajaran IPS kurang diminati oleh para siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS di kelas. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengelola pendidikan, agar
proses belajar mengajar lebih menarik sehingga siswa menyenangi pembelajaran IPS, dan dapat meningkatakan minat serta motivasi siswa terhadap pembelajaran IPS sehingga meningkatkan hasil prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS.
Setelah melakukan penelitian ini ada beberapa temuan diantaranya Pertama meningkatkan kinerja guru dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi rencana persiapan pembelajaran, yang Kedua meningkatakan minat siswa dalam pembelajaran IPS, ketiga partisipasi siswa dalam pembelajaran IPS menjadi efektif dan kondusif.


PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan Sosial termasuk salah satu mata pelajaran yang amat penting dikuasai dan diminati sejak tingkat Sekolah Dasar oleh karena itu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sangat penting diminati oleh siswa yang ditunjukkan dengan motivasi yang tinggi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.
Harapan tersebut ternyata belum nampak pada siswa kelas II SDN 003 Sebatik Tengah. Dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial para siswa sepertinya kurang tertarik, data pra  siklus menunjukkan dari jumlah siswa hanya 35% yang tertarik, sedangkan yang tidak tertarik 65%. Alasan yang sering mereka keluhkan antara lain, materi Ilmu Pengetahuan Sosial terlalu susah untuk dihafalkan dan dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan.
Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan antara lain dengan tanya jawab, lembaran tugas, membuat rangkuman dan mengerjakan LKS.
Namun demikian belum tampak hasilnya. Untuk meningkatkan siswa dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial perlu kiranya dicoba menerapkan metode pembalajaran yang membuat siswa lebih tertarik dan senang mengikuti pembelajaran Ilmu pengetahuan Sosial. Metode pembelajaran tersebut yaitu Metode Bermain Peran, karena dalam metode bermain peran melibatkan aspek-aspek kognitif, afektif serta psikomotor.
Sebagaimana yang tercantum dalam kurikulum SD 1994 bahwa pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SD berfungsi mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dasar untuk memahami kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari; (Depdikbud, 1994). Oleh karena itu dituntut memiliki kualifikasi pendidikan profesi yang memadai memiliki kompetensi dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan peserta didik, mempunyai jiwa kreatif dan memiliki etos kerja serta komitmen yang tinggi terhadap profesinya.
Melalui penerapan Bermain Peran siswa juga dapat menguji hubungan personal dan perilaku sosial dan mengkritisi berbagai pandangan dan pelaku, karakter peran. dan meningkatan motivasi dan minat belajar siswa khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas II SDN 003 Sebatik Tengah.
Berdasarkan pernyataan di atas perlu kiranya di lakukan Penelitian Tindakan Kelas mengenai meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menggunakan metode bermain peran.
A. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana yang telah diuraikan diatas untuk meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran IPS dapat dilakukan upaya antara lain :


  1. Apakah penggunaan metode pembelajaran dapat meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran IPS?
  2. Apakah penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS?
  3. Apakah lingkungan sekolah dapat meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran IPS?


B. Tujuan Penelitian 
Penulisan KTI Penelitian tindakan kelas ini bertujuan mengkaji dan menganalisis secara  reflektif, partisifatip, dan kolaboratif  terhadap realitas, kendala, problema aktual, dan implikasi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang dikembangkan berdasarkan penggunaan metode bermain peran. Selanjutnya tujuan penelitian tindakan kelas ini menemukan bahan informasi dan rujukan konseptual dalam mengadakan perubahan, perbaikan dan peningkatan iklim pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SDN 003 Sebatik Tengah. Berdasarkan permasalahan diatas maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
  • Untuk mengetahui minat siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial setelah menggunakan metode bermain peran.


C. Manfaat Penelitian 
Rinci manfaatnya Penelitian adalah:
Bagi Guru : 
melalui PTK ini guru dapat mengetahui metode pembelajaran metode bermain peran untuk meningkatkan minat belajar dalam pembelajaran IPS.
Bagi Siswa : 
diharapkan dapat tertarik dan senang mengikuti pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sehingga menumbuhkan keberanian untuk bertanya, menjawab sehingga aktifitas dan antusias belajar siswa lebih hidup dan meningkat.
Bagi Sekolah :
hasil dari proses belajar dan pembelajaran yang efektif diharapkan dapat meningkatkan mutu Pendidikan Sekolah.


D. Teori Pendudkung
IPS adalah bidang studi yang memepelajari dan menelaah serta menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat di tinjau dari berbagai aspek kehidupan secara terpadu; ( Ischak 1997: 1.35). Bahan kajian IPS dalam kurikulum 2006 disusun dengan sistematis, materi pelajaran berorientasi pada fungsi dan tujuan pembelajaran, standar kompetensi dasar hasil belajar dan indikator serta ruang lingkup yang harus dicapai oleh siswa. Bidang studi IPS adalah ilmu yang mempelajari gejala dan masalah kehidupan manusia di masyarakat. IPS bukan merupakan pengajaran pengetahuan sosial yang terlepas dari satu dan terisolasi yang lainnya, tapi IPS merupakan proses pengajaran yang memadukan berbagai pengetahuan sosial; (Sumaatmadja, 1984:22). Pandangan lain bahwa karekteristik pendidikan IPS adalah :


  • Bahan pelajarannya akan lebih banyak memperhatikan minat para siswa, masalah-masalah sosial, keterampilan berpikir, serta pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan alam,
  • Program studi IPS akan mencerminkan berbagai kegiatan dasar dari manusia,
  • Organisasi kurikulum IPS akan bervariasi dari susunan yang Integrated (terppadu) berhubungan sampai yang terpisah,
  • Susunan bahan pelajaran akan bervariasi dari pendekatan kewarganegaraan, fungsional, humanitis sampai yang struktural,
  • Kelas pengajaran IPS akan dijadikan laboratorium demokrasi,
  • Evaluasinya takan mencakup aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotor saja, tetapi juga mencobakan mengembangkan apa yang disebut Democratic Quotient dan Atizanship Quetient,
  • Unsur-unsur sosiologi dan pengetahuan sosial lainya akan melengkapi program studi IPS. Begitu pula unsur-usnur Science, teknologi, matematika dan agama akan ikut memperkaya bahan pelajaran IPS; (Daldjoeni, 1992:60)

Pembelajaran pendidikan IPS bukanlah bertujuan untuk mengembangkan dan memenuhi ingatan para peserta didik semata melainkan juga untuk membina dan mengembangkan mental anak untuk sadar akan tanggung jawabnya baik bagi dirinya maupun masyarakat dan negara. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial para siswa dibekali konsep-konsep pengetahuan yang mengarah kepada pemahaman atau pengertian-pengertian. Dalam penyajiannya menggunakan akal pikiran (kognitif), afektif serta psikomotor.


METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan dan terjadi disebuah kelas dengan tujuan untuk peningkatan mutu pembelajaran di kelas (Zaenal Aqib, 2009: 13). Dalam penelitian ini peneliti mengkaji permasalahan mengenai masih monotonnya metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan mata pelajaran Ilmu Pendidikan Sosial kelas II SDN 003 Sebatik Tengah, Kecamatan Sebatik Tengah Kabupaten Nunukan
Penelitian tindakan kelas ini merupakan penelitian tindakan kolaboratif. M.Asrori, dkk (2009: 53) penelitian tindakan kolaboratif merupakan penelitian dimana peneliti bekerja sama dengan beberapa pihak baik kepala sekolah, rekan guru, maupun peneliti dari perguruan tinggi kependidikan secara serempak. Dalam hal ini guru kelas II bertindak sebagai pengajar dan peneliti sedangkan Kepala Sekolah sebagai pengamat peneliti (observer)

B. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian,Pihak yang Membantu
Subjek penelitian adalah siswa kelas II (dua) SDN 003 Sebatik Tengah yang ada di wilayah Kecamatan Sebatik Tengah Kabupaten Nunukan tahun pelejaran 2016/2017. Sebanyak 20 Siswa  mata pelajaran IPS Tempat Perbaikan Pembelajaran SDN 003 Sebatik Tengah yang beralamat di Jl. Masago Baru Peringkat 9 Sebaik Tengah Waktu Pelaksanaan Siklus 1, Hari Senin, 22 Mei 2017 dan Siklus 2, Hari Sabtu, 29 Mei 2017. Dibantu oleh kepala sekolah SDN 003 Sebatik Tengah observasi kegiatan perbaikan pembelajaran

C. Prosedur Penelitian dan Teknik Analisis
  • Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Prosedur Dasar Penelitian Tindakan Kelas Prosedur Dasar penelitian Tindakan Kelas (action research classrom) melalui empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi Bagan alur pelaksanaan tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut:

Prosedur penelitian ini terdiri 2 siklus yaitu :
a. Siklus I
Pelaksana perbaikan pada siklus I meliputi Perencanaan dan identifikasi masalah, penetapan alternative pemecahan masalah, merencanakan pembelajaran yang akan diterapakan dalam KBM, menentukan pokok bahasan. mengembangkan skenario pembelajaran, menyusun LKS, menyiapkan sumber belajar dan format Penilaian, menilai hasil tindakan dengan menggunakan format observasi dan LKS. Refleksi serta evalusi tindakan 
b. Siklus II 
Pelaksana perbaikan pada siklus I meliputi Perencanaan Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah, dan  Pengembangan program tindakan siklus II. Pelaksanaan tindakan  yaitu pelaksanaan program tindakan II. Pengamatan yaitu Pengumpulan data tindakan II. Refleksi yaitu Evaluasi tindakan 


D. Teknik Analisis Data
a) Observasi.
Observasi dilakukan untuk mendapatkan data selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi dalam penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti, yaitu mengamati aktivitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Lembar observasi ini digunakan untuk mengamati aktivitas siswa ketika mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan tindakan yaitu menggunakan metode bermain peran. Data dari hasil pengamatan (observasi), perhitungan persentase aktivitas siswa dan persentase nilai siswa dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

b) Dokumentasi
memuat hal–hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya. Didalam penelitian ini teknik dokumentasi digunakan untuk menyajikan gambaran–gambaran yang terjadi ketika proses pembelajaran berlangsung.

c) Tes Tertulis.
Tes digunakan untuk mengukur pada ranah kognitif. Tes juga digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan. Selain itu, tes diberikan pada akhir siklus untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi setelah diberikan tindakan. Kriteria keberhasilan yang digunakan adalah pedoman kriteria keberhasilan pembelajaran ilmu pengetahuan. Indikator keberhasilan hasil belajar dinyatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya 70% dari jumlah siswa mendapat nilai KKM ≥ 70 maka tindakan dinyatakan berhasil baik pada ranah kognitif mauapun pada ranah afektif

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian
1. Tindakan Pra Siklus
Kegiatan pra siklus dilaksanakan sebelum digunakan sebagai acuan untuk membuat rencana tindakan., Hasil observasi keberhasilan bahwa jumlah siwa yang mendapat nilai lebih dari KKM 70 ≥ 70%. Dimana pada prasiklus diperoleh data hasil belajar siswa yang memperoleh KKM 6 siswa dari 20 orang siswa (40,%) dan 12 siswa (60%) memerlukan remedial sebelum menggunakan metode bermain peran. Berikut merupakan hasil sebelum dilakukan tindakan:

Tabel 4.1 Perolehan Nilai Evaluasi Pra Siklus
70
80
60
50
60
80
70
60
80
20
50
80
50
60
60
80
60
40
80
60

Gambar 4.1Diagram Perolehan Nilai Evaluasi Pra Siklus

Tabel 4.2 Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Pra Siklus
Bermain-main
6
30%
Memperhatikan
4
20%
Bertanya
2
10%
Mengantuk
4
20%
Mengobrol
4
20%

Gambar 4.2 Grafik Hasil Observasi Aktivitas Siswa Pra Siklus

2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I
a) Perencanaan
Menentukan waktu pelaksanaan dan rencana kegiatan dengan mengadakan diskusi dengan Supervisor 2 mengenai metode pembelajaran yang dapat diterapkan di siklus I dengan metode bermain peran

b) Pelaksanaan Tindakan
Guru mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan. Guru menggunakan metode bermain peran. Guru  membagi kelompok secara heterogen, dimana pada tiap kelompok ada 5 siswa. 

c) Observasi 
Dari hasil belajar tersebut sudah terlihat mengalami peningkatan hasil belajar namun masih ada siswa yang belum memenuhi kriteria keberhasilan dari 20 siwa yang mendapat nilai ≥ 70 dari KKM. diperoleh data hasil belajar siswa yang memperoleh KKM 12 siswa dari 20 orang siswa (60%), dan siswa (40%) memerlukan remedial. Dari  hasil pengamatan di atas, guru sebagai peneliti terlihat  melakukan refleksi diri namun belum sepenuhnya berhasil. Guru melakukan diskusi dengan kolaborator mengenai masalah yang ditemui tersebut guru akan memperbaiki strategi pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran dengan harapan keaktifan dan pemahaman anak menjadi meningkat. Maka mulailah siklus II dilaksanakan.

3. Pelaksanaan Tindakan siklus II
a) Perencanaan
Perencanaan tindakan pada siklus II ini dimulai dengan peneliti menentukan rencana kegiatan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) siklus II yang berisi perbaikan berdasarkan refleksi siklus I.

b) Pelaksanaan Tindakan
Guru mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan. Guru menggunakan metode bermain peran. Guru  membagi kelompok secara heterogen, dimana pada tiap kelompok ada 5 siswa. 

c) Observasi
Berdasarkan lembar observasi dan evaluasi siswa pada siklus II dapat diketahui bahwa guru sudah menerapkan langkah-langkah pembelajaran persiapan, pelaksanaan/tindakan, dan penutup/evaluasi yang harus dikerjakan guru sudah tercipta proses pembelajaran yang menggunakan metode bermain peran. Dilihat dari sikap siswa sebagai timbal balik dari sikap guru. Sehingga berdasarkan data hasil belajar tes sebelum tindakan, siklus I, pada siklus II tersebut dapat memperkuat pendapat bahwa pembelajaran IPS menggunakan metode bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas II SDN 003 Sebatik Tengah. Peningkatan hasil belajar siklus I dan siklus II sebesar 40%. Hasil observasi selama proses pembelajaran pada siklus I dan II adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5 Perolehan Nilai Evaluasi Siklus I
Siklus I
75
90
65
60
65
85
80
70
85
35
55
80
60
65
70
90
70
55
90
70
Siklus II
80
100
75
70
70
85
80
70
85
70
70
90
70
80
90
100
90
70
100
85

Gambar 4.5 Diagram Perolehan Nilai Evaluasi Siklus I & II

Tabel 4.6 Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I

Siklus I
Siklus II
Bermain-main
4
20%
1
5%
Memperhatikan
4
20%
14
70%
Bertanya
4
20%
5
25%
Mengantuk
2
10%
0
0%
Mengobrol
6
30%
0
0%

Gambar 4.6 Grafik Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I & II

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Hasil observasi aktivitas siswa kelas II SDN 003 Sebatik Tengah yang rendah yang dibuktikan saat observasi awal siswa duduk diam, dan takut bertanya, saat guru memberikan pertanyaan kepada siswa siswa hanya diam dan tanpa mau mencoba untuk memecahkan persoalan yang diberikan oleh guru, saat diberi tugas hanya sedikit siswa yang mengerjakan dengan serius dan siswa yang lain lebih suka mencontek, yang mengakibatkan hasil ulangan harian siswa rendah. 
Metode pembelajaran sebelumnya menggunakan metode ceramah yang dilaksanakan secara monoton yaitu dalam pembelajaran guru mendominasi pembelajaran dengan ceramah, sehingga ada kebosanan dalam diri siswa yang mengakibatkan hasil belajar siswa rendah, hal tersebut didukung pendapat dari Suryosubroto (2002:165-176) yang mengatakan bahwa adalah kesalahan besar jika guru sering mengajar siswa-siswanya dengan ceramah tanpa memiliki pegangan dan tanpa media pembelajaran. Peneliti menggunakan metode bermain peran dalam pembelajaran sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan berdasarkan observasi siklus I dan II mengalami peningkatan.

SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
1) Pelaksanaan pembelajaran IPS melalui penggunaan metode bermain peran dapat meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran IPS menjadi menarik minat dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2) Pengembangan pembelajaran IPS dengan menggunakan metode bermain peran terbukti meningkatkan minat belajar siswa SD, ini terlihat dari rencana pembelajaran hingga proses pembelajaran dengan menetapkan siswa sebagai pemeran aktif dalam pembelajaran yang didesain.
3) Penggunaan metode bermain peran dalam pembelajaran IPS tujuan utamanya untuk meningkatkan minat siswa. Dalam belajar IPS yang terlihat peningkatan minat siswa dalam pembelajaran IPS meningkat serta prestasi belajar menunjukan kenaikan serta proses pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan.

B. Saran-Saran
Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa hal yang perlu di sampaikan untuk dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi pihak yang akan menggunakan metode bermain peran. Saran-saran peneliti ajukan kepada Guru, Kepala Sekolah, Instansi terkait, dan peneliti selanjutnya.

a. Guru
Hendaknya guru melakukan kajian mendalam tentang metode bermain peran dalam pembelajaran IPS. Guru perlu menjalin hubungan baik dengan kepala sekolah, teman, siswa dan orang tua siswa sebab faktor-faktor tersebut dapat menjadi penentu keberhasilan pendidikan di sekolah

b. Kepala Sekolah
Sebagai manajer sekolah, hendaknya mampu memberikan situasi yang kondusif bagi pengembangan kemampuan guru dalam menjalankan tugasnya sebagai profesional di sekolah. Kepala sekolah pun perlu mengevaluasi program sekolah sehingga diketahui keberhasilan sekolah yang dapat menjadi keunggulan sekolah tersebut.

c. Instansi terkait
Hendaknya memberikan kesempatan kepada guru secara merata untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan yang relevan. Pembinaan rutin pun kepada guru juga perlu diberikan agar guru senantiasa menjaga kemampuannya dan disiplin.

d. Untuk peneliti selanjutnya
Hendaknya mengkaji dan menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan penggunaan metode bermain peran dengan lebih luas seperti kerangka teoritis maupun saat menerapkan.

Terima kasih telah mampir di blog ini, kali ini admin membagikan sebuah karya ilmiah khusus post ini tidak memiliki Daftar Pustaka. Mungkin pemiliknya buru-buru memberikan filenya kepada admin sehingga lupa melampirkan Daftar Pustaka.

Salam Blogger

Posting Komentar

0 Komentar